IKHLAS MENDATANGKAN PERTOLONGAN ALLAH SWT.

|

IKHLAS MENDATANGKAN PERTOLONGAN ALLAH SWT.

(Euis Maryam)

Selasa, 1 November 2016



Assalaamualaikum wr wb..ikhwah fillahhhhhhhh….

Al-Ishlah │ Pada kesempatan yang lalu saya telah menjelaskan definisi Ikhlas dalam Al-Quran dan definisi Ikhlas dalam salah satu Sunnah Nabi saw. Hari ini saya akan melanjutkan sunnah (hadits) berikutnya yang membahas tentang makna ikhlas.

Diriwayatkan oleh Nasa’I dari Mus’ab bin Sa’ad, dari ayahnya r.a, bahwasannya dia merasa memiliki kelebihan diantara para sahabat Rasulullah saw. Yang lain. Rasulullah saw. Bersabda, “Allah akan menolong umat ini melalui orang-orang yang lemah, dengan do’a mereka, shalat, dan keikhlasan mereka.”

Yang dimaksud dengan ikhlas dalam hadits ini adalah bahwa pertolongan Allah kepada umat Islam dapat diturunkan melalui tiga perkara yang disebutkan dalam hadits tersebut ataupun sekaligus dari ketiganya.

Terkadang kita berfikir pertolongan Allah hanya diturunkan melalui orang-orang yang kuat, baik kuat dari segi fisik, pemikiran ataupun memiliki harta yang berlimpah. Tetapi dalam hadits ini disebutkan pertolongan tersebut dapat diturunkan melalui orang-orang yang lemah.

Yang dimaksud orang-orang lemah dapat diketahui dari beberapa hadits Rasulullah saw. Yaitu orang-orang yang mampu berperang karena beberapa sebab, diantaranya karena masih anak-anak atau kaum perempuan.



TIGA HAL YANG BISA MENDATANGKAN PERTOLONGAN ALLAH SWT. 

1. Doa

Sebagaimana firman Allah swt, “Berdoalah kepada-Ku pasti akan Aku kabulkan untukmu.” (Ghafir: 60)

Ada sebuah kisah tentang keajaiban doa, saya akan bercerita berdasarkan salah satu artikel yang saya baca.


PERTOLONGAN ALLAH SELALU DATANG TEPAT PADA WAKTUNYA




Siang itu terasa panas dan menyesakkan bagi akhwat ini. Bukan saja karena ia hidup di kota industri yang banyak pabrik dengan asap tebal memanaskan kota. Lebih dari itu, kini ia dihadapkan pada pilihan sulit. Ada lelaki yang hendak mengkhitbahnya. Yang menjadi masalah, lelaki itu tidak sesuai kriterianya. Belum tarbiyah. Hatinya bimbang. 

Ada ketakutan yang menghantui jiwanya jika ia menerima, lalu menjalani rumah tangga nantinya. Adakah ia sanggup memenangkan dakwah dan membawa suaminya pada hidayah. Atau justru ia kalah. Larut dalam kehidupan ammah, lalu menjadi penambah jumlah mereka yang berguguran di jalan dakwah paska nikah.

Menolak? Ini juga pilihan sulit. Sebab ia tahu jumlah kader ikhwan tidak banyak di kota tempat ia berdomisili. Apalagi ikhwan yang siap menikah. Mungkin itu juga yang menjadi alasan beberapa akhwat yang telah lebih dahulu menikah. Bukan dengan ikhwan. Sementara ia tidak dapat berdusta bahwa usianya semakin “dewasa”. Ah… ia jadi bimbang. Galau. 

Dalam kebimbangan seperti ini, ke manakah kader dakwah melangkah? Dalam persimpangan jalan yang ia sendiri tidak tahu ke mana arah yang hendak ia pilih, kepada siapakah ia mempercayakan pilihan? Di sinilah iman berperan. Di persimpangan seperti inilah materi tarbiyah bekerja. Dari pemahaman menjadi pengamalan. Ia menyerahkannya kepada Allah. 

Di atas kebimbangan memilih ia memiliki keyakinan bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik baginya. Karenanya ia berdoa. Dalam gulita malam, ia menyalakan cahaya harapan. Di atas kekhawatiran apa yang akan menimpanya ia memiliki kepercayaan. Bahwa Allah akan memberikan pertolongan-Nya, menjawab problem yang kini dihadapinya. Karenanya ia bertawakal. Seraya meningkatkan taqarrub pada-Nya. Melengkapi asbabun nashr, agar pantas kiranya Allah merengkuhnya dengan pertolongan.

Belum sepekan galau itu menghimpit hari-harinya. Cahaya terang menyinari jalan di depannya. Ia bisa melihat jalan kebaikan seperti karpet merah yang dihamparkan persis di depan kakinya. Ke sanalah kakinya harus melangkah. Allah memberikan pertolongan-Nya tepat waktu. Bahkan, bukan antara memilih ya dan tidak. Allah memberikan alternatif ketiga. Ikhwan yang telah dikenalnya sebagai salah satu kader terbaik datang kepadanya. Tidak langsung memang, baru melalui data yang diterima dari murabbiyahnya. Saat ini, keduanya telah menjadi suami istri. 

Seorang ikhwan. Ia baru saja mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan. Kini ia kebingungan. Bukan karena sudah beberapa pekan belum memperoleh pekerjaan baru. Lebih dari itu, beberapa pekan lagi ia melangsungkan pernikahan. Bagaimana ia akan menafkahi istrinya nanti jika belum juga mendapatkan penghasilan? Dan bukankah salah satu muwashafat tarbiyah adalah qadirun ‘alal kasbi? Ia tidak bisa membayangkan seandainya mertuanya yang masih ammah mempersoalkan masalah ini di hari-hari pertamanya menjadi menantu, jika ia belum juga bekerja. Lalu ia kehilangan “izzah”? waktu terus berjalan dan kekhawatiran itu kian membesar.

Untunglah ia sadar. Di atas masalah yang besar, ia memiliki Allah yang Maha Besar. Keimanan pada akhirnya menggerogoti kekhawatirannya. Ia yakinkan kembali dirinya bahwa Allah Maha Pemberi rizqi. Bahkan binatang merayap seperti cicak pun tetap mendapatkan rizqi meskipun mangsanya adalah nyamuk bersayap. Dan begitulah. Pertolongan Allah selalu tepat waktu. Dua pekan sebelum akad nikah, ia kembali bekerja. Dan dengan mantap pada hari-H ia mengikrarkan perjanjian teguh membina keluarga. Saat itu, tidak ada suara lain yang lebih mengokohkan hatinya selain ucapan saksi, keluarga dan para tamu di sekitarnya: “saahhh!”

Bukan hanya seorang akhwat. Bukan hanya seorang ikhwan. Belasan orang. Ikhwan dan akhwat. Mereka panitia daurah. Publikasi sudah disebar, cukup banyak peserta yang telah mendaftar mengikuti acara tiga hari di luar kota ini. Yang menjadi masalah, acara tinggal tiga hari dan dananya masih kurang banyak. Mengandalkan shunduquna juyubuna dari panitia jelas memberatkan. Sebab mereka semua masih mahasiswa. 

Namun mereka tak menyerah. Dan bukankah daurah ini adalah untuk rekrutmen dakwah? Ini fi sabilillah. Dan Allah pasti mendatangkan pertolongan-Nya. In tanshurullaaha yanshurkum. Maka di malam hari panitia berdoa. Bermunajat memohon pertolongan-Nya. Di siang hari ikhtiar dijalankan. Menelepon satu per satu perusahaan dan lembaga yang telah diberi proposal sebelumnya. Alhamdulillah, ada hasil dalam dua hari itu. Sejumlah dana didapatkan. Namun belum cukup juga.

Hingga… tinggal satu hari. Dan itulah saat pertolongan Allah tiba. Dari sebuah perusahaan yang sebelumnya belum pernah menjadi sponsor list maupun target, panitia mendapatkan kejutan. “Iya, Mas. Kami berpartisipasi”, kata salah seorang karyawan di balik telepon, “silahkan nanti diambil dengan membawa kwitansi. Kami membantu sekian juta”. Subhaanallah, Allah memberikan pertolongan-Nya. Di hari terakhir. Di saat yang tepat. Panitia bersyukur. Bukan hanya masalah dana selesai, daurah kali ini surplus.

Nashrun minallah. Pertolongan Allah. Ia selalu tepat waktu. Kadang di waktu yang kita duga dan kita harapkan. Sering pula ia datang pada saat-saat kritis, ketika hamba sangat membutuhkan. Namun keduanya adalah waktu yang tepat. Tepat menurut Allah. Tepat bagi kita, andaikan kita tahu. Tentu masih banyak contoh selain tiga kisah nyata di atas. Setiap kita insya Allah memiliki pengalaman tersendiri. Betapa kasih sayang Allah itu amat luar biasa. Dan pertolongan-Nya selalu tepat waktu.

Segala hal yang menimpa seseorang sebagai ujian, takkan lebih besar dari kemampuan orang itu untuk menanggungnya. Sebagaimana tugas dan kewajiban yang dibebankan Allah juga tak pernah melampaui batas kemampuannya. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. “Ini merupakan pengarahan yang sangat bagus”, kata Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an ketika sampai di surat Al-Baqarah ayat 286 ini, “untuk membangkitkan kembali himmah ‘hasrat dan semangat’ ketika melemah karena panjangnya perjalanan. Ini juga merupakan pendidikan dan penjagaan terhadap ruh si mukmin, himmahnya, iradahnya, di samping membekali penggambarannya terhadap hakikat kehendak Allah dalam setiap hal yang ditugaskan kepadanya.”

Kaidah batas kemampuan ini juga memastikan bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya memasuki ujian yang di luar batas kemampuannya, kecuali Ia berikan pertolongan sebelumnya: terkadang jauh sebelum batas maksimal, kadang ketika tinggal selangkah lagi batas itu tercapai. Tapi itu selalu bermuara pada satu kesimpulan: pertolongan Allah selalu tepat waktu.

Jika kita merasa saat ini tengah menghadapi problematika yang sulit dan rumit, dan Allah belum jua menurunkan pertolongan-Nya, yakinlah bahwa kita masih kuat menanggungnya. Dan sejalan dengan kesabaran, Allah mengampuni dosa dan meninggikan derajat kita. Pada titik seperti ini boleh jadi kita merasa doa-doa kita tidak dikabulkan. Di sinilah ujiannya. Jika kita putus asa lalu tidak berdoa lagi, doa kita benar-benar tidak akan dikabulkan. Lalu kita semakin jauh dari-Nya. Padahal itu belum waktu yang tepat bagi Allah untuk menolong kita. 

“Bukankah Rasulullah SAW telah diberi kemenangan di Perang Badar, namun telah diperlakukan sebagai orang yang dikalahkan di Perang Uhud?” kata Ibnu Al Jauzi dalam Shaid Al Khatir, “Bukankah beliau telah dihalangi untuk menunaikan ibadah di Baitullah, tetapi kemudian diberi kesempatan untuk menguasainya? Baik dan buruk mesti ada. Sesuatu yang baik menuntut lahirnya syukur, sedang sesuatu yang buruk menuntut munculnya permintaan dan doa. Tapi jika doa yang telah dipanjatkan tak jua dikabulkan, kita mesti tahu bahwa Allah Azza Wa Jalla hendak memberikan ujian dan ingin melihat kepasrahan kepada ketetapan-Nya.”

Ketika ujian dilalui dengan kesabaran, ikhtiar, doa, dan tawakkal… ketika itulah pertolongan-Nya datang. Kalau tidak, pastilah di saat terakhir, ketika satu langkah lagi seorang mukmin tak kuasa menahan beratnya beban ujian itu, tak mampu menanggung rumitnya problematika yang dihadapi, di saat itulah Allah menganugerahkan pertolongan. Sebab, pertolongan-Nya selalu tepat waktu. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin]

Gimana sobat sekarang masih belum yakin dengan keajaiban DOA?????

Buat yang belum dapat jodoh atau belum menuju pelaminan mari kita berdoa….hihiii…upssssss… maaf terbawa suasana hati..wkwkwkkkw.. tapi yang palin penting kita berdoa agar bisa lebih baikkkkk…bener gak guyssssssss

Next….

Kita akan lanjut ke perkara kedua yang dapat mendatangkan kita pertolongan Allah swt…

Baca Artikel Tentang Aqidah Akhlak


2. Shalat

Shalat merupakan bentuk totalitas dalam menghadap Allah dengan doa khusus, waktu khusus, dan cara yang khusus pula.


Nihh aku saya pnya cerita lagi ..dibaca dengan cermat ya…siapa tau kita pernah mengalaminya tanpa kita sadariii

Alkisaaaaaaahhh……………….
Sebuah Kisah : Taat Kunci Datangnya Pertolongan Allah Swt

Suatu ketika disiang hari, disaat matahari begitu terik dan panas. Dengan perut yang masih keroncongan, Aku pulang dari kampus menuju tempat kost-kostsan dengan berjalan kaki. Tidak jauh memang kostnya, tetapi juga tidak dekat dan sialnya aku lupa bawa uang. Meski tertatih, namun berbekal sisa tenaga yang ada perjalanan itu akhirnya kumulai. Tak begitu peduli meski matahari serasa membakar kulit ditambah kondisi tubuh yang begitu letih. Yah,,, Beginilah nasib Si Pejalan Kaki. 

Masih di area sekitaran fakultas, aku sempatkan dulu shalat zhuhur di mushallah. Memang tak salah, nikmat betul rasanya sehabis shalat. Dan Akhirnya perjalanan di mulai kembali. Ketika mulai berjalan, dari jauh muncul seseorang yang sepertinya tidak asing. Benar saja, orang itu adalah senior di Program Studi ku. Sepertinya mereka dari suatu tempat. Dua orang itu kemudian berhenti tepat dihadapanku. Mereka saling berpamitan, salah seorangnya pergi kembali dan yang seorangnya bersamaku. Kami sama-sama mau pulang, ia menawarkan dengan mengatakan “ mau aku antar?”. Aku tidak mengerti dengan pertanyaan itu. Jelas-jelas tempat tinggal kami berbeda arah. Namun, Setelah ia mengambil dan mengeluarkan sebuah kunci dari dalam kantung celananya barulah kumengerti. Ternyata ketika pergi tadi, ia memarkir motor miliknya di kampus dan pergi dengan membonceng di kendaraan koleganya. Ajakan itu tentu saja aku terima dengan senang hati dan lapang dada.

Perjalanan itu di isi dengan kicauan-kicauan yang harusnya di jadikan kultwit (kumpulan twit) karena syarat akan makna dan nasehat. Dia ceritakan pengalaman hidupnya yang berubah drastis semenjak merutinkan mengerjakan shalat 5 waktu. Mulai dari suasana hatinnya yang menjadi tenang dan sampai pada taat akan mendatangkan pertolongan Allah Swt. Mendengar perkataan tersebut, membuat rasa ingin tahuku bertambah. Dan terjadilah percakapan itu. Ia mengatakan bahwa perasaan tenang semacam ini tidak pernah dirasakan sebelumnya, disaat shalatnya masih belum rutin seperti sekarang ini. Barang kali inilah jawaban atas kegelisannya selama ini. Aku sepakat sekali dengan perkataanya, disaat kita merasa gelisah dan merasa ditimpa banyak masalah sebenarnya yang dibutuhkan pada saat itu ialah shalat, bukan yang lain. Sering selama ini atas dasar ingin mencari ketenangan, kita memberi legitimasi (pembenaran) atas perbuatan yang kita lakukan. Padahal aturannya sudah jelas, mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Agama kita sudah menjelaskan hal itu dan sifatnya mutlak. Tidak boleh perbuatan yang salah dihalalkan hanya dengan alasan ingin meringankan beban pikiran atau alasan apapun. Misal, menyontek hanya dengan alasan bahwa nilai ujian yang kita dapat tetap saja buruk meski sudah belajar mati-matian sementara mereka yang tidak serius belajar dan hanya menyontek saat ujian mendapatkan nilai yang bagus. 


Berkah lain yang ia dapat dari merutinkan shalat adalah rezeki yang dilapangkan. Ia mengatakan bahwa sungguh datangnya rezeki itu begitu tiba-tiba. Disaat kondisi keuangannya begitu memprihatinkan, selalu saja ada rezeki yang datang. Ini seperti rezeki yang datang kepadanya sendiri, bukan ia yang pergi mencari rezeki. Ya,,, saya setuju dengan perkataan ini. Rezeki yang ada di bumi ini pastilah berasal dari satu sumber, ialah Allah Swt Sang Pemilik Rezeki. Untuk mendapatkan kemudahan dalam mencari rezeki sudah seharusnya kita menuruti semua keinginan dari sang pemilik rezeki tanpa tapi, sehingga dengan begitu semua usaha yang kita lakukan akan diridhoi. Dengan begitu, Insya Allah usaha apapun yang kita lakukan akan mendatangkan berkah dan bernilai lebih dimata manusia. Satu catatan kecil, Rezeki tidak akan datang bila yang kita kerjakan setiap harinya hanya bermalas-malasan. Berusahalah maka rezeki akan ada.

Akhirnya kesimpulan dari berkah yang di dapatnya adalah taat kunci datangnya pertolongan Allah Swt. Ia mengatakan bahwa berkat ketaatan maka segala keperluan dan kebutuhan akan tercukupi. Lihat saja, disaat ia begitu membutuhkan uang, ada saja orang yang datang membawa rezeki kepadanya. Disaat ia mendapatkan masalah, solusi seakan muncul begitu saja dikepalanya. Dan seterusnya… dan seterusnya. Saya jadi teringat terhadap apa yang saya rasakan siang ini. Bayangkan saja, pada siang hari disaat matahari terasa membakar kulit, saya harus pulang berjalan kaki dengan perut yang keroncongan ke kost-kostanku yang jauh. Dalam keadaan lemah semacam itu, siapa pun pasti akan berharap agar dapat pulang dengan nyaman dengan menggunakan kendaraan. Tentu saja mudah bila ada kendaraan sendiri tetapi bila tidak memiliki kendaraan solusinya ialah berharap agar bertemu dengan seseorang yang kita kenal. Itulah harapanku saat itu, dan Alhamdulillah setelah melanjutkan perjalan sehabis shalat keinginan itu benar-benar terwujud. Saya bertemu dengan seorang kenalan dan diantar pulang sampai ke tempat tinggal.

“bro, kita sudah sampai…” kata teman saya. Hening tidak ada suara apapun hanya bisingan motor yang kadang-kadang ada. lanjutnya. “ woi bro,, bangun bangun. Kamu ngelamun ya”. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan. Aku berastagfirullah dalam hati “ woi berisik, ga usah terik-terik donk, aku tidak budek” aku turun dari motor dan mengucapkan terima kasih. Ia mengganguk kemudian membalikkan motor dan melaju lagi. Akhirnya ia hilang di pembelokan. Yah,,, paling tidak hari ini aku belajar sesuatu dari pengalaman orang lain. Selesai []

Penulis : almus


Guysss…. Gimana ceritanya…hhehehehe,,,,smoga mengingatkan kita untuk selalu shalat lima waktu.. karena kita semua tauuu shalat itu tiang agama ..kalo bangunan gada tiangnya kamu juga bisa bayangin kannnnnnnnn…gakan berdiri tegakkkk,,,…

Nowwwwwww…

Saya akan membahas perkara terakhir yang dapat mendatangkan pertolongan Allah…ini merupakan amalan hati yang gampang gampang susah gitu guyssssss..pasti kalian tauuu donggg..


3. Ikhlas 

Ikhlas adalah menghadap hanya kepada Allah, dengan segala ucapan, perbuatan dan jihad.

Wahh ..ternyata bukan sekedar dengan ucapan..terkadang kita ngomong..gua ikhlas kooo…tapi hati kita masih pamrih berharap mendapatkan balasan atas apa yang kita perbuat….

Nih ada cerita lagi sobattttttt,,,selamat membaca yaaa…

Baca juga artikel tentang IKHLAS BERAMAL DALAM KEHIDUPAN


IKHLAS MENDATANGKAN PERTOLONGAN

Dari sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah saw., menjelaskan,”Ada tiga orang dari umat dari sebelum kalian yang sedang bepergian sehingga mereka harus bermalam di sebuah gua, mereka masuk ke dalamnya. Lalu sebuah batu besar menggelinding dari gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata,”Yang bisa menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah doa kalian kepada Allah (sambil bertawassul) dengan amal saleh kalian.”

Salah seorang dari mereka berkata,”Ya Allah, aku mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua. Aku selalu memberikan mereka minum susu di petang hari sebelum anggota keluarga yang lain. Suatu hari aku pergi mencari padang rumput di tempat yang cukup jauh untuk menggembalakan ternak dan baru kembali ke rumah ketika hari sudah malam. Kemudian aku memerah susu untuk mereka tapi aku mendapatkan mereka sedang tidur. Karena aku tidak ingin mendahulukan keluarga lain untuk meminum susu tersebut, aku berdiam diri sambil menunggu keduanya bangun. Tetapi mereka baru bangun ketika fajar menyingsing kemudian mereka meminum susu tersebut. Ya Allah, jika aku melakukan itu demi mencari keridhaan-Mu, bukalah kesulitan kami akibat batu besar ini”. Batu besar itu bergeser sedikit tapi mereka belum bisa keluar.

Orang kedua berkata,”Ya Allah, aku mempunyai sepupu perempuan. Aku sangat mencintainya, bahkan aku sangat berhasrat untuk melakukan hubungan layaknya suami istri dengannya, tetapi dia menolakku. Sampai suatu saat musim paceklik melanda, dia datang kepadaku untuk meminta bantuan. Aku memberinya seratus dua puluh dinar emas tapi dengan syarat dia menerima ajakanku untuk berhubungan badan. Dia pun menerima syarat itu.

Namun, ketika aku telah merengkuhnya, dia berkata,”Aku tidak mengikhlaskanmu untuk menodaiku kecuali dengan haknya.” Aku terhenyak dan merasa berdosa melakukan itu padanya. Aku pun meninggalkannya, walaupun aku masih sangat mencintainya. Aku membiarkan dinar emas yang telah aku berikan padanya. Ya Allah, jika memang aku melakukan itu demi mencari keridhaan-Mu bukalah kesulitan kami,” Batu itu pun bergeser, hanya saja mereka belum bisa keluar.”

Orang ketiga berkata,”Ya Allah aku pernah mempekerjakan beberapa pekerja di tempatku. Aku telah membayar gaji mereka, kecuali satu orang yang belum karena dia pergi begitu saja. Gaji yang belum aku bayarkan tersebut kemudian aku gunakan untuk mengembangkan usaha sampai menghasilkan keuntungan yang melimpah.


Beberapa waktu kemudian, pekerja yang belum menerima gaji itu datang kepadaku untuk meminta gajinya yang belum dibayarkan. Dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, berikan hakku’ . Aku menjawab, ‘Apa yang kamu lihat berupa unta, sapi, domba, dan hamba sahaya itu adalah gajimu.’ “


Pekerja itu berkata,’Wahai hamba Allah, jangan mengejekku’ . Aku berkata,’Aku tidak mengejekmu, itu adalah hasil dari gajimu’. Lalu, dia mengambil semuanya tanpa menyisakan apapun untukku.“Yaa Allah, jika aku melakukan itu demi mencari keridhaan-Mu, angkatlah kesulitan kami.” Lalu batu itu bergeser dan mereka keluar dan meneruskan perjalanan..



Teman- teman itulah salah satu kelebihan IKHLAS yang patut kita pelajari dan kita miliki..masih banyak kisah yang sangat menarikkkk…sampai ketemu di hari esok yaa…semoga bermanfaattt sobatttttt…..

Wassalam


Sumber: Rukun Ikhlas ( Ali Abdul Halim Mahmud) MENEGAKKAN RISALAH ISLAM DENGAN KEIKHLASAN


Related Posts

0 komentar: