IKHLAS BERAMAL DALAM KEHIDUPAN

|

IKHLAS

(Euis Maryam)





A. DEFINISI IKHLAS

    Al-Ishlah │  Kata Ikhlas merupakan salah satu kata yang sangat penting dalam Islam. Sehingga tercantum dalam Al-Quran, Sunnah, dan biasa didengar oleh kaum muslimin. Bahkan kata al-ikhlash menjadi salah satu nama surat dalam Al-Quran.[1]

     Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.


     Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.


    Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”.


    Al Harawi mengatakan : “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata : “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.


    Abu ‘Utsman berkata : “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)”.


   Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berkata : “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin”.


    Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya”.[2]


     Ikhlas ialah, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena mencari harta rampasan perang, atau agar dikatakan sebagai pemberani ketika perang, karena syahwat, kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang banyak, mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena alasan-alasan lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu; maka semua ini merupakan noda yang mengotori keikhlasan.

Baca Artikel Tentang Aqidah Akhlak

     Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya. Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka tindakan dan perilakunya mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya.


     Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berpendapat, arti ikhlas karena Allah ialah, apabila seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk taqarrub kepada Allah dan mencapai tempat kemuliaanNya.[3]


1. Definisi Ikhlas dalam Al-Quran

Kata ikhlas -dalam tinjauan etimonologi- banyak sekali terdapat dalam al-Qur`an, di antaranya:
a. Khaalish, yaitu bersih dan tidak dicampuri noda apapun. Seperti dalam firman Allah,“Ingatlah, hanya kepunyaaan Allah-lah agama yang bersih.” (QS. Az-Zumar [39]: 3)

b. Khalashuu, yaitu memproteksi diri. Seperti dalam firman Allah, “Maka tatkala mereka berputus asa dari (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik.” (QS. Yûsuf [12]: 80).[4]

c. Khaalishah, yaitu khusus untukmu, sebagaimana dalam firman Allah,
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Shâd [38]: 46)

d. Mukhlishan, yaitu orang yang ikhlas memperjuangkan agamanya hanya untuk Allah semata, dan tidak ada cela sedikit pun. Kadangkala kata mukhlishan dipadukan dengan kata mukhlishin. Seperti dalam firman Allah,“Katakanlah, ‘Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.’” (QS. Az-Zumar [39]: 14); “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.’” (QS. Az-Zumar [39]: 11)

e. Mukhlashan, kadangkala kata ini dipadukan dengan kata mukhalashin. Seperti dalam firman Allah,
“Sesungguhnya dia adalah orang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam [19]: 51).[5]

2. Definisi Ikhlas dalam Sunnah Nabi saw.

    Kata ikhlash merupakan salah satu kata yang terdapat dalam Sunnah Nabi saw. Dengan kata dan derivasinya. Jika kita meneliti kata ikhlasini dalam Sunnah Nabi, atas izin Allah, kita akan mampu mengetahui maksud kata ikhlas dengan benar dan detail.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan kami paparkan penggunaan kalimat ikhlas dalam Sunnah Nabi:

a. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzar r.a., dia berkata, “Bahwa Rasulullah saw. Bersabda,


قد افلح من اخلص قلبه للإيمان وجعل قلبه سليما ولسانه صادقا ونفسه مطمئنة وخليقته مستقيمة وجعل أذنه مستمعة وعينه ناظرة.


“Benar-benar beruntung orang yang hatinya tulus ikhlas dengan keimanan; yakni menjadikan hatinya selamat, lisannya jujur, jiwanya tenteram, tabi’atnya istiqamah, telinganya peka, dan matanya cermat”.

Kata “akhlasha” dalam hadits diatas artinya perbuatan ikhlas. Maksudnya bahwa mengikhlaskan hati dengan keimanan berarti mengosongkan hati dari segala kesibukan dan angan-angan yang bisa mengganggu keimanan, seandainya hal-hal tersebut terdapat dalam hati.


Hadits di atas menafsirkan makna kalimat اخلص قلبه للإيمان(orang yang membuat hatinya tulus ikhlas dengan keimanan) dengan kata-kata berikut:


1) Keselamatan Hati. Hati bisa dikatakan selamat apabila bersih dari rasa dengki, iri, hasud dan berbagai jenis perbuatan keji lainnya.

2) Kejujuran Lisan baik dalam ucapan maupun perbuatan.

3) Ketenteraman Jiwa, yakni kecondongan hati kepada kebenaran dan menerima qadha (ketentuan) dan taqdir (ketetapan) Allah swt.

4) Tabiat yang Istiqomah. Yakni komitmen dalam melakukan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

5) Telinga yang Peka. Yakni telinga yang tajam dan peka terhadap segala kebaikan sehingga dia terbiasa dengannya. Apabila mendengar kejahatan maka dia segera menghindarinya.

6) Mata yang Cermat. Yakni mata yang selalu mengamati lingkungan sekitarnya dan merenunginya untuk mengambil sesuatu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.


masih ada kelanjutan pembahasan kita tentang ikhlas .....ditunggu kelanjutannya yaaaa...


SELAMAT MEMBACA DAN BELAJAR , SEMOGA BERMANFAAT
PLEASE LIKE AND SHARE

--------------------------------------------------------
[1] Ali Abdul Halim Mahmud, Rukun Ikhlas,


[2] Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Imam An Nawawi (I/16-17), Cet. Darul Fikr; Madarijus Salikin (II/95-96), Cet. Darul Hadits Kairo; Al Ikhlas, oleh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hlm. 16-17, Cet. III, Darul Nafa-is, Tahun 1415 H; Al Ikhlas Wasy Syirkul Asghar, oleh Abdul Lathif, Cet. I, Darul Wathan, Th. 1412 H.

[3] Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (I/17); Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam (I/70).

[4] Ali Abdul Halim Mahmud, Rukun Ikhlas,

[5] Imam An Nawawi , Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, (I/16-17), Cet. Darul Fikr; Madarijus Salikin (II/95-96), Cet. Darul Hadits Kairo; Al Ikhlas, oleh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hlm. 16-17, Cet. III, Darul Nafa-is, Tahun 1415 H; Al Ikhlas Wasy Syirkul Asghar, oleh Abdul Lathif, Cet. I, Darul Wathan, Th. 1412 H.

Baca juga Artikel Selanjutnya IKHLAS MENDATANGKAN PERTOLONGAN ALLAH SWT.

Related Posts

0 komentar: