Kebutuhan Untuk Muhasabah Diri

shares

Kebutuhan Untuk Muhasabah Diri


Kebutuhan Untuk Muhasabah Diri

Al-Ishlah │ Waktu satu orang melaksanakan muhasabah sehingga bakal nampak terang di hadapannya atas dosa-dosa yg dilakukan. Gimana mungkin saja seseorang anak cucu Adam akan menonton dosa & aibnya tidak dengan jalankan muhasabah?! 

Pertanyaan diatas bisa saja tidak sedikit menghampiri benak seseorang muslim, ada di antara mereka yg pilih buat menyibukkan diri dgn urusan dunianya tidak dengan memikirkan apa yg dapat jadi bekalnya di akhirat. Ada pun yg beribadah sama seperti apa yg Allah perintahkan, tapi ibadahnya hanyalah juga sebagai kebiasaan. Mereka shalat lima saat tiap-tiap harinya, berpuasa & mengeluarkan zakat tiap-tiap tahunnya dapat tapi seluruh itu tak berdampak terhadap akhlak & pribadinya, maksiat pula terkadang tetap dilakukan. Memotivasi utk memperbaiki amalan-amalan yg ada tidak kunjung hadir, penyebabnya satu lantaran melupakan muhasabah diri maka beberapa orang seperti ini telah merasa lumayan dgn amalan yg sudah dilakukan. Di sinilah pentingya muhasabah, ada banyak hal yang lain yg jadi argumen mengapa muhasabah butuh dilakukan, diantaranya : 

1. Muhasabah adalah perintah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala. 

Allah berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

“Hai beberapa orang yg beriman, bertakwalah terhadap Allah & hendaklah tiap-tiap diri memperhatikan apa yg sudah diperbuatnya utk hri esok (akhirat); & bertakwalah pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg anda kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18). 

2. Muhasabah adalah sifat hamba Allah yg bertaqwa 

Satu Orang yg bertaqwa ialah mereka yg mengambil sebaik-baik aset, & dalam perjalanan mencari modal tersebut tidak jarang seorang merasa lelah & bosan yg mengakibatkannya tidak mawas diri maka tergelincir & terjatuh dalam futur (lemah semangat utk jalankan amal shalih). Muhasabah bakal menolong seorang buat menghadapi bermacam macam kesukaran yg dirinya dapatkan dalam pencariannya bakal modal tersebut. Maimun Badan Intelijen Negara Mahran rahimahullah berbicara : 

لَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ لِنَفْسِهِ أَشَدُّ مُحَاسَبَةً مِنَ الشَّرِيْكِ الشَّحِيْحِ لِشَرِيْكِهِ 

“Tidaklah seseorang hamba jadi bertaqwa hingga beliau jalankan muhasabah atas ia lebih keras daripada seseorang sahabat kerja yg pelit yg menciptakan rumus dgn temannya”. 

3. Buah manis dari muhasabah yaitu taubat 

Disaat satu orang laksanakan muhasabah sehingga bakal nampak terang di hadapannya atas dosa-dosa yg dilakukan. Macam Mana bisa jadi seseorang anak cucu Adam bakal menonton dosa & aibnya tidak dengan laksanakan muhasabah?! 

Tidak Sedikit di antara manusia yg laksanakan kemaksiatan, tetapi Allah masihlah memberikan nikmat kepadanya, beliau tak menyadari bahwa ini yakni wujud istidraj (penangguhan menuju kebinasaan) dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, layaknya Firman-Nya : 

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ 

“Dan beberapa orang yg mendustakan ayat-ayat Kami, kelak Kami dapat menarik mereka bersama berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), bersama kiat yg tak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf : 182). 

Beberapa Orang yg mendalami ayat Allah ini, bakal takut atas peringatan Allah tersebut & ia bakal selalu mengintrospeksi beliau, janganlah hingga nikmat yg Allah memberi kepadanya adalah wujud istidraj. Muhasabah yg mengantarkan terhadap pertaubatan di awali bersama memasuki gerbang penyesalan. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

النَّدَامَةُ تَوْبَةٌ 

“Menyesal ialah taubat.” (HR.Ibnu Majah no. 4252, Ahmad no.3568, 4012, 4414 & 4016. Hadist ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahiih Al-Jaami’ Ash-Shaghir no.6678) 

Related Posts

0 komentar: