Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah

Al-Ishlah │ Cinta seseorang akan menyatukan kepentingan, sehingga menuntut konsekuensi timbal balik demi memuaskan sang kekasih (lawaazimul mahabbah). Konsekuensi itu terkait dengan loyalitas dan anti loyalitas sebagai berikut.

1. Mencintai siapa yang dicintai sang kekasih (mahabbatu man ahabbahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga mencintai siap saja (orang) yang dicintai kekasihnya itu. Mencintai Allah berarti harus mencintai mereka yang dicintai Allah yaitu para malaikat Nya, para nabi dan rasul, shiddiqiin, syuhada, dan sholihiin. Allah swt berfirman di dalam al Qur’an surat an Nisa ayat 69 sebagai berikut:

“dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama sama dengan orang orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi nabi, para shiddiqiin, para syuhada, dan orang orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik baiknya”

2. Mencintai apa yang dicintai sang kekasih (mahabbatu maa ahabbahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga mencintai apa saja (hal, sesuatu) yang dicintai kekasihnya itu. Mencintai Allah swt berarti harus mencintai apa apa yang dicintai Allah yaitu ibadah yang sunnah, sedekah, jihad, berakhlak mulia dan lain sebagainya. Mencintai apa dan siapa saja yang dicintai Allah swt merupakan wujud dari loyalitas (al wala’) yaitu solidaritas, perlindungan, keberpihakkan, pembelaan, ketaatan dan sejenisnya.

3. Membenci siapa saja yang dibenci sang kekasih (bughdhu man abghadhahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga membenci siapa saja yang dibenci kekasihnya itu. Seorang mukmin yang mencintai Allah menujukan kebenciannya kepada siapa saja yang tidak berpihak kepada Allah swt yaitu iblis dan setan (baik dari kalangan jin maupun manusia). Bahkan Allah menyuruh untuk menjadikan setan sebagai musuh. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt dalam al Qur’an surat fatir ayat 6 berikut:

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala nyala”

4. Mebenci apa saja yang dibenci sang kekasih (bughdhu maa abghadhahul mahbub). Seorang mukmin harus membenci apa saja yang dibenci oleh Allah swt berupa kemungkaran, kemaksiatan, kezhaliman, kefasikan, kemunafikan, kemusyrikan, dusta, kebohongan, kesesatan dan pembuat kerusakan lainnya (al fasad). Allah swt berfirman di dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 205 sebagai berikut:

“dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman – tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan ”

Membenci siapa dan apa saja yang dibenci oleh Allah swt adalah wujud dari anti loyalitas (al bara’) yaitu berlepas diri dan tidak berpihak kepada siapa dan apa saja yang dibenci Allah swt.

Posting Komentar untuk "Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah"