Memurnikan Ibadah Atau Ikhlas (Tauhidul & Ibadah)

|

Al-Ishlah │ Setelah kita meng Esakan Allah (tauhidullah), maka selanjutnya dalam beribadah harus kita implementasikan juga dengan cara meng Esakan Allah. Itulah yang disebut dengan tauhidulibadah yang maknanya dikenal dengan ikhlash ( pemurnian ibadah).

Dalil

Al Qur’an surat al Ikhlas ayat 1 sampai 3 : “Katakanlah (Muhammad): Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”


Dan orang-orang yang iklas dalam beribadah adalah orang-orang yang tidak dapat ditundukkan dan diperdaya oleh iblis. Hanya orang-orang iklaslah yang selamat dari tipu daya iblis ini.

Al Qur’an surat 38 ayat 83 : “Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka (iklas)”

Al Qur’an surat 98 ayat 5 : “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlash menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”

Pemurnian atau ikhlash dalam beribadah baru akan tercapai apabila kita berprinsip:

1. Menolak Thoghut (al kufru bith thaghut)

Dalil 

Al Qur’an surat al Baqara ayat 258 : “Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan(kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata : Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, Dia berkata: Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata : Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat. Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”

Al Qur’an surat an Nisa ayat 60 : “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunka sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya”

Al Qur’an surat 39 ayat 17 : “Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, maka pantas mendapat berita gembira, sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku”

Menurut shaikhul Islam Ibnu Taimiyah thaghut merupakan sesuatu yang disikapi seseorang sebagaimana dia mensikapi Allah swt dalam hidupnya baik berupa jin, manusia maupun makhluk-makhluk lainnya. Maka sekecil apapun thaghut harus disingkirkan dan dijauhi (al ibti’adu anith thaghut).

Dalil 

Al Qur’an surat al Baqarah ayat 208 : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu”

Al Qur’an surat an Nahl ayat 36 : “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) : sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaiman kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

Al Qur’an surat az Zumar ayat 16 sampai 17 : “Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya (dengan azab itu). Wahai hamba-hamba-Ku, maka bertakwalah kepada-Ku. Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, maka pantas mendapat berita gembira, sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku.”

Kenapa thaghut harus dijauhi? Karena kalau tidak berarti kita telah menyekutukan Allah swt (kita sudah musyrik). Padahal Allah paling benci dengan kemusyrikan hambanya dan Allah nyatakan satu-satunya dosa yang menyebabkan manusia tidak pernah masuk ke surga-Nya adalah dosa syrik (Allah sangat pencemburu dan Dia tidak mau di duakan, tigakan dst oleh para hambanya). Oleh karena itu sekali-kali jangan kita melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain) kepada Allah swt. Dan Allah nyatakan dosa ini adalah dosa yang paling besar terhadap-Nya.

Dalil 

Al Qur’an surat az Zumar ayat 3 : “Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selai Dia (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sungguh Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang-orang yang sangat ingkar.”

Al Qur’an surat az Zumar ayat 11 : “Katakalah: Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”

Al Qur’an surat az Zumar ayat 14 : “Katakanlah : Hanya Allah yang au sembah dengan penuh keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rasulullah pernah mengatakan kepada ummatnya bahwa kemusyrikan itu lebih tersembunyi dibanding bekas tapak kaki seekor semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam”. Jadi kita harus betul-betul berhati-hati tentang kesyirikan ini agar tidak terjangkit di dalam hati kita.


2. Iman kepada Allah (al imanu billah)

Setelah kita berhasil menyingkirkan thaghut, maka kita harus membangun iman di hati kepada Allah swt. Iman itu harus kita wujudkan dalam bentuk ibaah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dalam melakukan ibadah kepada-Nya (‘ibadatullahi wahdahu)

Dalil

Al Qur’an surat an Nahal ayat 36 : “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) : sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaiman kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

Inilah pemurnian ibadah yang hanya dilakukan kepada Allah swt semata (tauhidul ‘ibadah)

Dalil 

Al Qur’an surat al Bayyinah ayat 5 : “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlash menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Sebagai akhir pembahasan ini marilah kita simak ayat al Qur’an yang menyatakan kepada kita bahwa syarat perjumpaan dengan Allah swt adalah kita harus terbebas dari kesyirikan dalam melakukan ibadah kepada-Nya.

Al Qur’an surat al Kahfi ayat 110 : ”Katakanlah (Muhammad) : Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah dia mengerjakan kebajikan (beramal shaleh) dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”

Related Posts

0 komentar: