Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 2

|

Al-Ishlah │ Pada bagian sebelumnya kita sudah membahas konsep tarbiyah ramadhan yang terdiri dari input proses dan output. Inputnya adalah orang-orang yang beriman, prosesnya adalah ibadah di bulan ramadhan dan output yang ingin dihasilkan adalah derajat ketakwaan. Untuk memudahkan kita dalam membahas konsep ini, maka kita akan menjawab pertanyaan yang sudah dikemukakan pada bahasan sebelumnya. 

Pada kali ini kita akan mencoba menjawab pertanyaan yang pertama yaitu kenapa orang-orang yang beriman yang diseru untuk dijadikan input untuk mengikuti proses tarbiyah ramadhan. Apakah tida mungkin bagi yang tidak beriman untuk melakukan ibadah romadhan ini? Sekali lagi pertanyaan ini kita munculkan bukan untuk mempertanyakan keputusan atau kebijakan Allah swt, melainkan untuk memudahkan kita dalam memahami, merenungi kandungan dari ayat yang mulia ini.

Jika kita mengelompokkan manusia yang ada di muka bumi ini, maka secara umum kita akan menemukan dua golongan manusia. Golongan pertama adalah golongan orang yang percaya akan ketuhanan Allah swt dan kenabian Muhammad saw dan golongan yang kedua adalah sebaliknya.  Untuk golongan pertama sudah disepakati penyebutannya sebagai orang-orang Muslim, sedangkan golongan yang kedua dinamakan dengan orang-orang kafir atau non muslim.

Pada kesempatan ini kita akan fokus membahas kelompok pertama yaitu orang-orang yang dikategorikan sebagai seorang muslim. Kenapa? Karena dalam konsep Islam, orang-orang beriman (mumin) itu syaratnya adalah seorang Muslim.  Kalau begitu timbul pertanyaan apakah orang-orang sebelum datangya Islam tidak ada yang beriman? Untuk menjawabnya marilah kita simak salah satu dari sekian banyak pemberitahuan dari Allah tentang apa itu muslim dan siapa saja orangnya. Cobalah renungkan ayat berikut ini:

“adakah kamu hadir ketika ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’  Mereka menjawab : ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, ibrahim, Ismail, Ishaq, yaitu (Tuhan) Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadanya (wa nahnu lahuu muslimuuna) (al Baqarah : 133)

“Katakanlah : ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadanya (wa nahnu lahuu muslimuuna) (al Baqarah : 136)

Jadi dari dua ayat ini saja kita bisa ambil kesimpulan bahwa sebenarnya setiap orang yang mengimani bahwa Allah adalah Tuhannya tanpa ada yang lainnya dan mengakui kitab-kitab yang diberikan kepada nabi-nabi adalah seorang muslim (tunduk kepada Allah). Inilah konsep Muslim dalam Islam. Bagi Islam agama yang diajarkan mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad adalah Islam, karena tidak mungkin Allah menurunkan banyak agama dengan Tuhan yang berbeda-beda. Sekarang marilah kita tinggalkan perkara ini karena pembahasan kita akan terlalu luas dan mudah-mudahan ada waktu dikesempatan lain untuk membahasnya.

Di dalam Islam kita mengenal istilah-istilah seperti Muslim (orang Islam), Mukmin (orang beriman), Muttaqiin (orang bertakwa), fasik, munafik, zhalim, kafir. Orang muslim adalah orang yang sudah melakukan atau mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Orang Muslim belum tentu mukmin atau beriman. Ini dapat dilihat pada firman Allah surat al Hujarat yang membanta pernyataa orang Arab Badui yang sudah mengaku beriman, tetapi Allah patahkan atau bantah pengakuan mereka dan menyuruh mereka mengatakan baru Islam atau ditundukkan.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah: ‘Kami telah Islam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al Hujarat ayat 14)

Dengan demikian Islam itu belum tentu beriman, tapi sebaliknya mukmin atau beriman pasti seorang muslim. Sebagaimana dengan orang Islam bisa menjadi mukmin, mereka bisa saja menjadi fasik, munafik, zhalim dan kafir.

Allah hanya menyeru kepada orang-orang mukmin untuk melaksanakan puasa ramadhan. Kenapa tidak orang muslim, fasik, munafik, zhalim dan sebagainya. Tentu saja kaitannya ibadah romadhan ini akan terasa berat untuk dilaksanakan kecuali bagi orang-orang yang beriman. Jangankan untuk ibadah puasa yang butuh perjuangan, ibadah yang ringan dan santai saja mereka tidak sanggup melakukannya. Apalagi melakukan ibadah yang jelas-jelas banyak bertentangan dengan hawa nafsu mereka.

Related Posts

0 komentar: