Keseimbangan Hidup atau Tawaazun

|

التوازن 


Al-Ishlah │ Manusia diciptakan Allah dengan fitrah (al fitrah) [QS. 30: 30, 7:172, 75:14]. Apabila manusia tetap berada pada fitrah itu maka ia disebut sebagai orang yang lurus (hanif). Jika tetap dalam kondisi fitrah yang lurus, berarti keseimbangan standar manusia akan tetap terjaga (at tawazun)[QS.55:7-9]. Keseimbangan manusia meliputi segenap unsurnya yakni: unsur jiwa, akal dan jasadnya. Masing-masing unsur tersebut membutuhkan perhatian dan pemenuhan hak secara seimbang. Kekurangan maupun berlebih-lebihan dalam memberikan hak-haknya akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan.

  1. Fisik (al jasad): Fisik manusia meliputi anggota badan, organ-organ tubuh dan sel-sel serta muatan tubuh manusia, yang diciptakan Allah dalam keadaan keseimbangan pasti. Untuk mendukung fungsi-fungsi fisik itu, ia membutuhkan pemenuhan (al ghidza ul jasadi) konsumsi (ath tho'am) berupa makanan, minuman, gerak dan istirahat secara seimbang baik kualitas maupun kuantitas. [QS. 2:168, 80:20].
  2. Akal (al aql) : Akal juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan secara seimbang. Pemenuhan kebutuhan akal (al ghidza ul aql) dilakukan dengan cara belajar dan mencari ilmu (iptek), tadabbur ayat-ayat qauliyah, dan tafakkur ayat-ayat kauniyah.[QS.96:1, 55:1-4]
  3. Jiwa (ar ruh): Jiwa adalah faktor kunci pada diri manusia, jika ia baik maka baiklah diri manusia itu, sebaliknya jika ia buruk maka buruklah seluruh diri manusia itu. Karena itulah manusia harus pandai menjaga dan merawat jiwanya agar senantiasa baik. Untuk itu jiwa harus dipenuhi kebutuhannaya (al ghidza ur ruh) secara seimbang. Kebutuhan jiwa adalah kedekatan kepada Allah, karena itu santapan jiwa adalah dzikir (dzikrullah) dan ibadah yang kontinyu lagi berkesinambungan. [QS.73:1-2, 13:28, 3:191]
Ketiga aspek di atas adalah karunia/nikmat (an ni'mah) [QS.31:20] dari Allah yang sangat berharga. Manusia yang bersyukur adalah yang bisa mengelola nikmat, baik lahir maupun batin, secara seimbang untuk memaksimalkan ibadahnya kepada Al Khaliq.

Related Posts

0 komentar: