Hakikat Ibadah atau hakikatul ibadah

|

حقيقة العبادة 


Al-Ishlah │ Ibadah kepada Allah berangkat dari perasaan seseorang hamba (asy syu'ur).[QS. 16:18, 55:13 18 21 23 25 28 30 32, 31:20, 14:7, 7:54, 67:1]. 

Perasaan betapa banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya (bikatsrati ni'amillah). Teramat banyak nikmat Allah yang ia terima sejak lahir hingga sekarang, tentu perasaan itu muncul setelah direnungi dan dihayati. Disaat yang bersamaan ia merasakan keagungan dan kebesaran Allah SWT(bi'azhamatillah).

Ketika kedua hal itu dirasakan, seseorang akan beribadah kepada Allah (al 'ibadah) [QS. 7:55, 2:165, 4:125] dengan segala keredahan hati (ghayatut tadzallul), dengan segala cinta (ghayatut mahabbah) dan dengan segala ketundukan (ghayatut khudhu').

Pada saat yang sama, ketulusan ibadah kepada Allah membuat dirinya takut (khauf) kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Namun rasa takut itu bukanlah rasa keputusasaan, karena Allah maha memahami hamba-Nya dan selalu memberi harapan (motivasi). Maka seorang muslim akan selalu menaruh harapan besar bahwa Allah akan menerima ibadahnya (raja') [QS. 7:55-56, 9:13, 33:39, 2:41, 21:90, 94:8]

Related Posts

0 komentar: