Tauhid Hakekat dan Kedudukannya

|

Al-Ishlah │ ONE DAY ONE HADIST Senen, 9 Oktober 2017/ 19 Muharram 1439



Tauhid Hakekat dan Kedudukannya

حَدَّثَنِى إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ يَحْيَى بْنَ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ مُعَاذٍ - رضى الله عنه - قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ ، فَقَالَ « يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ » . قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا » . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ « لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا »

Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Ibrahim dia mendengar Yahya bin Adam telah bercerita kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq dari 'Amru bin Maimun dari Mu'adz radliallahu 'anhu berkata: "Aku pernah membonceng di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diatas seekor keledai yang diberi nama 'Uqoir lalu Beliau bertanya: "Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah?" Aku jawab: "Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu". Beliau bersabda: "Sesungguhnya hak Allah atas para hamba-Nya adalah hendankah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan hak para hamba-Nya atas Allah adalah seorang hamba tidak akan disiksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun". Lalu aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah boleh aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Beliau menjawab: "Jangan kamu beritahukan mereka sebab nanti mereka akan berpasrah saja".
(Hr. Bukhari dan Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1-Hadis menjelaskan tujuan Allah menciptakan makhluk, yaitu mengesakan Allah semata dalam ibadah dan ikhlas untuk-Nya. 
2- Nabi menyampaikannya dengan bentuk pertanyaan supaya hal itu lebih kukuh menancap dalam jiwa dan lebih optimal untuk sampai pada pemahaman umat Nabi. 
3- Karena sungguh ini hak yang paling besar, tidak dimiliki oleh siapapun kecuali hanya milik Allah Maha Pencipta, Maha Agung, Maha Pemberi Nikmat, dan Maha Pemberi Keutamaan.
4- Sebagaimana Rosul yang mulia telah menjelaskan balasan yang berhak diperoleh hamba dari Allah – jika mereka menegakkan kewajiban yang paling besar ini (mengikhlaskan ibadah) – yaitu balasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan mereka dari adzab neraka dan memasukkan mereka ke surga yang penuh kenikmatan.
5- Disini nampak bahwa hak Allah atas hambaNya intinya ialah kewajiban hamba untuk ber-Tauhid, khususnya Tauhid Ubudiyyah.
6- Perkara ini menyenangkan dan menggembirakan orang yang beriman sehingga berkata Mu’adz meminta ijin Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Bolehkah aku memberi kabar gembira ini kepada manusia?” Tetapi Rosul shollallahu ‘alaihi wa sallam  melarang Mu’adz untuk kemaslahatan umatnya dan rasa kasih sayang beliau supaya umatnya bersungguh-sungguh dalam beramal yang dapat mendekatkan kepada Allah dan supaya mereka berlomba-lomba di dalamnya sehingga mereka memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah karena kesungguhan, jihad, dan berlomba-lombanya mereka.
6- Rasulullah melarang sahabat Mu’adz menyebarkan hadis tersebut agar hadis tersebut tidak dipersepsi secara sempit (berpasrah diri tanpa dibarengi dengan ikhtiar sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Swt). Nabi Muhammad Saw. takut bila umatnya akan bersandar kepada janji semacam ini sehingga meremehkan amal shalih dan berlambat-lambat dalam beramal, maka sungguh mereka akan kehilangan banyak kebaikan dan pahala yang besar.
7- Di hadist tersebut Rasulullah melarang Sahabat Mu’adz untuk menyebarkannya. Walaupun saat ini kita semua menjadi tahu hadis tersebut, karena dalam rangkaian riwayat itu disebutkan bahwa menjelang akhir hayatnya, Mu’adz memberitahukan kepada sahabat lain dikarenakan beliau  takut menjadi termasuk orang yang menyembunyikan hadist.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Tujuan Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia, sekaligus sebagai tugas kewajiban pokok manusia kepada RobNya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ 


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. 

2- Tugas pokok semua rasul diutus ditengah umat manusia

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhi­lah Tagut itu, " maka di antara umat itu ada orang-orang yang di­beri petunjuk oleh Allah, ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.

(An-Nahl:36).

Baca artikel tentang Al-Qur'an Hadits

Baca artikel tentang

Baca juga Artikel Selanjutnya

Related Posts

0 komentar: