WASPADA PENYAKIT HATI

|



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Al-Ishlah │ WASPADA PENYAKIT HATI

Ada tiga perkara yang membinasakan : kikir yang ditaati; hawa nafsu yang diikuti; dan membangga-banggakan diri sendiri.” (HR. Thabrani)

1. Kikir yang Ditaati.

kekikiran dan kebakhilan adalah penyakit. Orang bakhil senantiasa menahan dirinya untuk menginfakkan hartanya, sedangkan orang pendengki membenci kenikmatan yang dikaruniakan Allah kepada orang lain. Dengan demikian, lahirnya sifat kikir, melakukan kemaksiatan, dan bakhil merupakan bagian dari penyakit hati yang harus dihindari.

“Hati-hatilah kamu terhadap sifat kikir, karena kikir telah merusak orang-orang sebelum kalian. Mereka memutuskan silaturahmi, berbuat bakhil dan berbuat maksiat, semuanya disebabkan oleh penyakit kikir ini”( HR. Ahmad).

2. Hawa Nafsu yang Diikuti.

Hawa nafsu merupakan keinginan yang muncul dari dalam hati setiap manusia, Memperturuti hawa nafsu hanya akan membawa manusia kepada kerusakan. Hawa nafsu merupakan perkara yang tidak akan ada habis-habisnya. Andaikan manusia diberi harta sebesar gunung, maka ia pasti akan meminta yang kedua. Andaikan diberikan yang kedua, maka ia pasti akan meminta yang ketiga. Begitu seterusnya.

Oleh karena itu keinginan yang terus-terus dituruti akan menyebabkan kita termasuk orang-orang yang rugi di dunia, terlebih lagi di akhirat. Islam mengajarkan kita untuk dapat mengendalikan hawa nafsu dan beruntunglah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, dan Allah menjanjikan orang yang takut kepada Allah dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya bahwa disediakan syurga yang menjadi tempat tinggalnya di akhirat kelak.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(QS. An-Naazi’aat : 40-41)

3. Membangga-banggakan diri sendiri

Membanggakan diri sendiri, disebut dengan ujub. Ia adalah salah satu penyakit hati yang berbahaya, karena bisa saja menyerang orang yang soleh sekalipun. Ada orang yang bangga dengan fisiknya, ada yang bangga dengan hartanya, ada yang bangga dengan kecerdasannya, bahkan ada yang bangga dengan ibadahnya.

Orang yang memiliki sifat ujub ini akan memandang rendah orang lain. Merasa dirinya lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, bahkan lebih soleh dibanding orang lain. Hal ini akan menyebabkan hatinya tertutup dari kebenaran. Sufyan Ats-Tsauri meringkas makna ‘ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya”.

Maka dari sifat ujub ini, akan lahir berbagai sifat tercela lainnya. Sombong, dengki, dan iri hati adalah penyakit bawaan dari ujub ini. Imam Syafi’i mengatakan, barang siapa yang berlebihan mengangkat (membanggakan) dirinya sendiri maka Allah akan menjatuhkan martabatnya.

“Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Bermanfaat

Related Posts

0 komentar: