Bagaimana Hukum Membaca Al Quran Tapi Berbuat Syirik

|

Bagaimana Hukum Membaca Al Quran Tapi Berbuat Syirik 

Bagaimana Hukum Membaca Al Quran Tapi Berbuat Syirik

Al-Ishlah │ Kamu dapati tidak sedikit orang yang membaca Al Qur'an tapi mereka terjerumus dalam kesyirikan & meninggalkan tauhid. Padahal perkara tauhid ini amat terang di dalam Kitabullah & sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam

Balasan Berbuat Syrik Syirik Hukum Syirik Belajar Ilmu Alquran Syirik & Popularitas 

Tak diragukan lagi bahwa Al Qur’an sudah menuturkan segala factor yg dibutuhkan oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman : 

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ 

“dan Kami sudah menurunkan Al Kitab kepadamu juga sebagai penjelasan atas segala sesuatu pula sbg tata cara & rahmat & info gembira bagi beberapa orang Muslim” (QS. An Nahl : 89). 

& penjelasan yg paling dibutuhkan pula paling urgen bagi manusia di dalam Al Qur’an merupakan berkenaan tauhid & syirik. Dikarenakan perkara ini merupakan pokok agama & aspek mendasar dalam Islam. Tauhid lah yg jadi pondasi dari seluruh amalan yg dilakukan satu orang Muslim, & syirik lah yg sanggup membatalkan seluruhnya amalan tersebut. 

Oleh lantaran itu Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memaparkan ke-2 perkara ini di dalam Al Qur’an bersama penjelasan yg gamblang & terang. Allah Ta’ala berfirman : 

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ 

“Dan sesungguhnya Kami sudah menurunkan kepadamu ayat-ayat yg terang; & tidak ada yg ingkar kepadanya, melainkan beberapa orang yg fasik.” (QS. Al Baqarah : 99). 

Bahkan seluruh bidang dari Al Qur’an yaitu penjelasan berkaitan tauhid & syirik. Ibnul Qayyim menyampaikan bahwa Al Qur’an seluruh menuturkan berkenaan tauhid. Dikarenakan mengisi dari Al Qur’an tentu tak lepas dari : 

Perintah utk beribadah pada Allah & meninggalkan syirik 
Penjelasan berkenaan balasan baik bagi ahli tauhid, & balasan jelek bagi ahli syirik 
Penjelasan mengenai hukum halal & haram, yg ini yaitu konsekuensi tauhid 
Kisah-kisah berkenaan para Rasul & umat mereka, & pergolakan yg mereka alami, yg ini yaitu pelajaran berkaitan balasan atas tauhid & syirik” (Syarh Al Ushul As Sittah, Syaikh Shalih Al Fauzan, 16).

Sehingga Al Qur’an yang dibaca siang & tengah malam, dalam shalat, diluar shalat, dilantunkan oleh para qaari‘, & dihafal oleh tidak sedikit orang, semuanya berisi berkenaan tauhid. Tetapi sayang sungguh sayang, ada banyak orang yg terluput dari aspek ini. Mereka membaca & mendengarkan Al Qur’an tetapi tauhid tak terlihat dalam tingkah laku mereka, bahkan mereka terjerumus dalam kesyirikan. 

Maksud membaca Al Qur’an 

Syaikh Shalih Badan Intelijen Negara Fauzan Al Fauzan mengemukakan : “anda dapati tidak sedikit orang yg membaca Al Qur’an tapi mereka terjerumus dalam kesyirikan & meninggalkan tauhid. Padahal perkara tauhid ini teramat terang di dalam Kitabullah & sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dikarenakan mereka melestarikan apa yg mereka dapati dari kakek moyang mereka, para syaikh mereka, & rutinitas masyarakat daerah mereka. Mereka tak merenungkan barang satu hri pula, & tak men-tadabburi, apa yg ada di dalam Al Qur’an. & mereka tak mengusahakan mengkiritis apa yg dilakukan beberapa orang, apakah factor tersebut telah benar atau tak?”. 

Dia meneruskan, “bahkan mereka mempraktekkan taklid buta pada kakek moyang mereka. Mereka mempunyai anggapan Al Qur’an cuma dibaca sekedar buat membawa berkahnya saja & mendapatkan pahala dari membacanya. Mereka tak bermaksud utk mentadabburi & mengamalkan apa yg ada di dalamnya” (Syarh Al Ushul As Sittah, Syaikh Shalih Al Fauzan, 10). 

Padahal Al Qur’an dibaca buat diamalkan, sebab dia yakni sumber hidayah, Allah Ta’ala berfirman : 

(إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ) (الإسراء : من الآية9) 

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan hidayah pada(jalan) yg lebih lurus” (QS. Al Isra : 9). 

Allah Ta’ala pula memerintahkan kita buat mentadabburi mengisi Al Qur’an, bukan sekedar membaca tidak dengan perenungan. Allah Ta’ala berfirman : 

(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا) (محمد : 24) 

“Maka apakah mereka tak men-tadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24). 

Bahkan sebaik-baik manusia yaitu orang yg mempelajarinya, berikhtiar mendalami isinya & mengajarkannya terhadap orang lain. Bukan sekedar membacanya tidak dengan pemahaman. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : 

خيركم من تعلم القرآن وعلَّمه 

“sebaik-baik kalian merupakan yg mencari ilmu Al Qur’an & mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 4639). 

Syaikh Shalih Badan Intelijen Negara Fauzan Al Fauzan menambahkan, “sedikit sekali orang yg membaca Al Qur’an dgn maksud ini. Biasanya mereka cuma membacanya buat mencari barokah atau sekedar bernikmat-nikmat mendengarkan tilawah sang qaari’, atau utk mengobati orang sakit. Adapun membaca Al Qur’an buat mengamalkannya, pula mentadabburinya, & mengembalikan apa yg dilakukan oleh beberapa orang pada Al Qur’an, ini seluruhnya tak ditemukan kecuali cuma terhadap sedikit orang saja” (Syarh Al Ushul As Sittah, Syaikh Shalih Al Fauzan, 11-12). 

Terlampaui perhatian terhadap tajwid, tapi lalai para tauhid 

Sebahagian orang, memberikan perhatian yg demikian serius dalam tajwid (membaguskan bacaan Al Qur’an). Atau amat sangat perhatian terhadap langgam-langgam dalam membaca Al Qur’an, menghafal & melatih langgam-langgamnya, atau mengoleksi tidak sedikit rekaman para qaari’ & menirukan bacaan juga iramanya. Tapi justru mereka lalai kepada esensi dari apa yg dibaca. 

Syaikh Shalih Al Fauzan menyebut, “orang-orang membaca Al Qur’an, memperbanyak bacaannya, mengkhatamkannya berkali-kali, menghafalnya, mentartilkannya, mereka amat sangat perhatian terhadap lafadz-lafadz & tajwidnya. Amat Sangat perhatian terhadap hukum-hukum mad, hukum-hukum idgham, ghunnah, iqlab, izhar, ikhfa, & mencurahkan perhatian yg amat akbar dalam hal tersebut. Ini benar-benar baik. Tapi maksud yg lebih urgen bukanlah ini. Maksud yg lebih urgen yaitu mentadabburinya, mendalami Kitabullah, & mengembalikan amalan kita pun amalan manusia pada Kitabullah, apakah amalan-amalan tersebut tepat dgn Kitabullah atau tidak sesuai?” (Syarh Al Ushul As Sittah, 13). 

Tantangan berat bagi kepada da’i tauhid 

Ia pun mengemukakan, “bahkan apabila ada seseorang da’i yg mau memperbaharui etika tidak baik yg ada kepada diri mereka, mereka dapat beram & menuduhnya berbuat kesesatan. Bahkan mereka pun menuduhnya sudah ke luar dari falsafah agama, atau beliau sudah membaca aliran baru, & tuduhan-tuduhan lainnya” (Syarh Al Ushul As Sittah, 12). 

Telah jadi satu buah keniscayaan bahwa orang mendakwahkan buat kembali pada Al Qur’an & As Sunnah, menggandeng manusia buat bertauhid yg benar & meninggalkan kesyirikan, dapat mendapat penentangan dari beberapa orang. hal tersebut tidak mau menciptakan mereka jadi rendah & hina, justru bakal mengangkat derajat mereka di segi Allah. Justru beberapa orang yg menyelisih Al Qur’an & sunnah yg hakikatnya hina & rendah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : 

نَّ اللهَ يرفعُ بهذا الكتابِ أقوامًا ويضعُ به آخرِينَ 

“Allah mengangkat derajat kaum-kaum bersama Al Qur’an ini, & merendahkan kaum-kaum yg yang lain dengannya” (HR. Muslim). 

Mereka sudah didahului oleh para Nabi & Rasul Allah yg pun mengalami elemen yg mirip, bahkan lebih dahsyat lagi. Oleh dikarenakan itu Allah menghibur Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga para da’i ilallah yg terjadi di atas jalannya : 

مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ 

“Tidaklah ada yg dikatakan (oleh beberapa orang kafir) kepadamu (wahai Muhammad) kecuali sesungguhnya aspek mirip sudah dikatakan pada rasul-rasul sebelum anda. Sesungguhnya Rabb-mu memang memiliki ampunan & hukuman yg pedih” (QS. Fushilat : 43). 

Mudah-mudahan kita dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan beberapa orang yg selalu belajar, merenungkan & mengamalkan kandungan Al Qur’an. Mudah-mudahan kita digolongkan jadi beberapa orang yg bertauhid & dijauhkan sejauh-jauhnya dari kesyirikan. Wallahu waliyu dzalika wal qaadiru ‘alahi. Baca artikel selanjutnya tentang Keakraban Para Ulama Pada Al-Qur'an di Bulan Ramadhan.

Terima kasih atas kunjungannya !

***

Related Posts

0 komentar: