Meneladani Sikap Sabar dan Teguh Siti Masyitah

shares

Al-Ishlah │ Pernahkah kalian membaca kisah Masyitah tentang kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian ? Siti Masyitah adalah pembantu rumah tangga Fir'aun, seorang raja yang sangat kejam dan zalim. Bahkan ia mengaku sebagai Tuhan yang harus disembah oleh seluruh rakyatnya.

Raja Fir'aun memerintah Mesir dengan tangan besi. Siapapun yang tidak mengikuti perintahnya pasti akan menerima hukuman mati. Begitu juga dengan orang yang tidak mau menyembah Fir'aun.

Siti Masyitah adalah pembantu rumah tangga Fir'aun walaupun kehidupannya tergantung pada Fir'aun, akan tetapi ia tak pernah mengakui Firaun sebagai tuhan. Secara sembunyi-sembunyi ia tetap beriman kepada Allah swt. Zat yang menciptakan manusia dan yang membuat alam semesta. Siti Masyitah hanya percaya dan menyembah kepada Allah swt.

Fir'aun dan keluarganya tak mengetahui keadaan Siti Masyitah yang sebenarnya namun akhirnya mereka tahu juga ceritanya begini. Pada suatu hari Siti Masyitah hendak menyisir rambut puteri Fir'aun. Tanpa sengaja mulutnya mengucapkan Bismillah lalu ketika sisir rambut terjatuh ia pun tanpa sengaja mengucapkan "Innalillahin WaInnailaihiroji'un". Menyaksikan keadaan ini anak Fir'aun sangat terkejut. Kemudian ia bertanya kepada Siti Masyitah "Apakah kamu mempunyai tuhan selain ayahanda?", "Iyaa" jawab Siti Masyitah polos. "Apakah kamu tidak takut kalau sekiranya hal ini diketahui ayahanda?" Lanjut anak Firaun.
"Tidak, aku lebih takut kepada Allah swt. daripada manusia. Karena hanya kepada Allah-lah aku menyembah dan berserah diri," jawab Siti Masyitah.

Setelah mendengar jawaban Siti Masyitah yang lugas tersebut, putri Fir'aun melaporkan hal ini kepada ayahanda nya. Fir'aun menjadi sangat marah. Ia lalu memanggil Siti Masyitah. Dengan penuh kemarahan, ia menekan Siti Masyitah agar mau kembali menyembah dirinya dan tidak mengakui adanya Allah swt.

Walaupun Siti Masyitah hanya seorang pembantu rumah tangga yang lemah, ternyata hatinya seperti baja dalam mempertahankan imannya. Siti Masyitah lebih rela mati daripada menyembah Fir'aun, raja yang zalim dan mengaku sebagai tuhan.

Fir'aun sangat kesal melihat keteguhan Siti Masyitah mempertahankan imannya. Ia bertekad akan menghukum Siti Masyitah. Kemudian ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk memasak air mendidih ia lantas memanggil Siti Masyitah dan bertanya, "Apakah kamu tetap pada pendiranmu?" "Ya", jawab Siti Masyitah. "Apakah kamu tidak takut dengan hukuman yang saya berikan?" Tanya Fir'aun lagi. "Hanya Allah swt. yang kami takuti." Jawab Siti Masyitah. "Jangan asal jawab!!!" "Jika kamu keras kepala, kamu, anakmu dan suamimu akan saya masukkan kedalam kuali itu. Apakah kamu tidak sayang kepada orang-orang yang kamu cintai itu?" Ancaman Fir'aun dengan nada geram.

Setelah Siti Masyitah tidak mau merubah pendirianny, Fir'aun benar-benar melaksanakan ancamannya. Mula-mula suaminya dimasukkan kedalam bejana yang mendidih itu. Dilanjutkan dengan anaknya yang besar. Melihat yang demikian ia agak gentar dan takut. Lalu anaknya yang masih bayi dan sedang digendong berkata, "Wahai ibu, jangan takut! Biarlah kami mati bersama asal iman kita tidak hilang."

Setelah mendengar suara anaknya yang masih bayi ini, iman Siti Masyitah menjadi kokoh kembali dan akhirnya ia bersama-sama dengan semua anggota keluarganya matu dalam bejana yang mendidih untuk mempertahankan imannya. Mereka rela mengorbankan jiwanya demi mempertahankan imannya daripada harus menjadi orang kafir.

Related Posts

0 komentar: