Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Al Bara’ bin Malik - Saudara Anas Bin Malik Penyerbu Benteng Musailamah Al-Kadzdzab

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Al-Ishlah │ Jika kita menceritakan sejarah kepahlawanan para shahabat Nabi saw. dalam berjihad, jangan lupakan satu nama ini !!! Al-Barra' bin Malik adalah saudara dari Anas bin Malik, Ia termasuk golongan orang yang terkemuka dan terhormat, menjalani kehidupannya dengan semboyan "Allah dan sorga..." Dan barangsiapa melihatnya ia sedang berperang mempertahankan agama Allah, niscaya ia akan melihat hal ajaib di balik ajaib...! Ketika ia berhadapan pedang dengan orang-orang musyrik, Barra' bukanlah orang yang hanya mencari kemenangan, sekalipun kemenangan termasuk tujuan.... Tetapi tujuan akhirnya ialah mencari syahid..... Seluruh cita-citanya mati syahid, menemui ajalnya di salah satu peperangan dalam mempertahankan haq dan melenyapkan bathil.......


1. Latar Belakangnya 

Rambutnya kerinting, tubuhnya kurus kering dan kulitnya cukup hitam. Orang memandang remeh kepadanya dan segan bertemu dengan dia.. Tetapi walaupun begitu, dia telah membuktikan keberaniannya sanggup menewaskan ratusan orang musyrik dalam beberapa kali perang tanding satu lawan satu. Belum termasuk yang ditewaskannya dalam perang berkecamuk.

Sesungguhnya dia pemberani yang pantang mundur. Khalifah ‘Umarbin Al-Khattab pernah menulis surat kepada para panglima, supaya tidak mengangkat Al Bara’ bin Malik menjadi komandan pasukan, karena dikhawatirkan dengan keberaniannya yang luar biasa itu akan membahayakan tentera muslimin. Al-Bara’ bin Malik adalah saudara kandung Anas bin Malik, khadam Rasulullahsaw. Kisah ini terjadi tidak berapa lama sesudah Rasulullah wafat. Ketika itu beberapa kabilah ‘Arab murtad dari agama Islam secara beramai-ramai, sebagaimana mulanya mereka masuk Islam beramai-ramai. Akhirnya yang tinggal dalam Islam hanyalah para penduduk Makkah, Madinah, Thaif, dan beberapa kelompok yang berserakan di sana-sini. Mereka orang-orang yang teguh imannya.

Khalifah Abu Bakar menghendaki agar ancaman terhadap pembelot Islam itu dihapuskan sampai ke akarnya. Maka dibentuknya sebelas pasukan tentera, terdiri daripada kuam Muhajirin dan kaum Ansar. Lalu dikirimnya ke seluruh jazirah ‘Arab, untuk mengembalikan orang orang yang murtad dan memerangi siapa yang membangkang.

Kelompok orang-orang murtad yang paling jahat dan besar ialah kelompok Banu Hanifah yang dipimpin oleh Musailamah Al-Kazzab. Jumlah mereka tak kurang dari empat puluh ribu orang, terdiri daripada prajurit-prajurit kental dan berpengalaman perang. Kebanyakan mereka murtad dan mengikuti Musailamah karena fanatik kesukuan, bukan kerana percaya kepada kenabian Musailamah.


2. Sengitnya Pertempuran Yamamah

Tentera Muslimin yang pertama-tama datang menyerang Musailamah dipimpin oleh ‘Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan ‘Ikrimah dapat dikalahkan tentera Musailamah. sehingga kucar-kacir dan Ikrimah sendiri tewas sebagai syahid.

Sesudah itu dikirim oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq pasukan kedua di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Dalam pasukan Khalid ini terdapat pahlawan-pahlawan Ansar dan Muhajirin. Di antara mereka terdapat Al Bara’ bin Malik Al-Anshary, dan beberapa pahlawan muslim lainnya.

Pasukan Khalid bertemu dengan pasukan Musailamah di Yamamah. Pertempuran segera terjadi tak dapat dihindar. Belum lama kedua pasukan itu bertempur, ternyata pasukan Musailamah lebih unggul. Mereka dapat mendesak mundur pasukan Khalid dari posisinya, hingga pasukan Musailamah berhasil menyerbu sampai ke perkemahan Khalid bin Walid dan menghancurkan perkemahan itu. Bahkan isteri Khalid nyaris terbunuh ketika itu, seandainya tidak diselamatkan pengawal. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Khalid melompat ke tengah-tengah pasukannya dan mengubah susunan pasukan. Kaum muhajirin, kaum Ansar, dan prajurit yang terdiri anak-anak desa dipisah-pisahkannya mengikut kelompok masing-masing. 

Tiap-tiap kelompok dikepalai salah seorang dari kelompoknya sendiri. Dengan begitu Khalid dapat mengetahui kesanggupan masing-masing, serta mengenal pasti di mana letak kelemahan tentera muslimin. Kini kedua pasukan berbuku-hantam dan tebas-menebas dengan sengit dan mengerikan. Kaum muslimin memperlihatkan kemampuan yang belum diperlihatkannya daripada tadi. Tentera Musailamah bertahan di medan tempur bagaikan gunung, kukuh dan kuat. Mereka tidak peduli walaupun korban banyak jatuh di pihak mereka. Kaum muslimin memperlihatkan keberanian luar biasa, yang kalau dihitung-hitung sesungguhnya merupakan peristiwa yang sangat mengerikan. 

Tsabit bin Qais yang memikul bendera Ansar. Dia melilit tubuhnya dengan kain kafan kemudian digalinya lubang setinggi betis. Lalu dia turun ke dalam lobang itu. Dia bertahan di lubang itu mengibarkan bendera kaumnya sampai tewas sebagai syahid.

Zaid bin Khattab, saudara ‘Umar bin Khattab r.a., memanggil kaum muslimin, “Wahai kaum muslimin, bertempurlah dengan gigih! Tewaskan musuh-musuh kalian dan terus maju. Wahai manusia! Demi Allah! Saya tidak akan berbicara lagi sesudah ini sampai Musailamah dihancurkan, atau saya syahid menemui Allah. Saya akan perlihatkan kepada Allah bukti bahwa saya betul-betul syahid.’ kemudian dia maju menyerang musuh, bertempur sampai tewas sebagai syahid. 

Lain pula dengan Salim maula Abu Hudzaifah, pembawa bendera kaum Muhajirin. Kaumnya khawatir dia lemah atau takut. Kata mereka kepada Salim, “Kami sangsi dengan keberanian Anda menghadapi musuh.” Jawab Salim, “Jika kalian sangsi terhadap saya, biar saya menjadi pembawa bendera Al Quran.“ Kernudian dia menyerbu musuh-musuh Allah dengan berani sehingga Ia tewas pula sebagai syahid.

Tetapi kepahlawanan mereka belum seberapa dibandingkan dengan kepahlawanan Al Bara’ bin Malik r.a. Al-Barra' bin Malik menunjukkan kepahlawanannya. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Al-Barra' seraya berseru, "Wahai Al-Barra', kerahkan kaum Anshar!" Saat itu juga Al-Barra' berteriak memanggil kaumnya. "Wahai kaum Anshar, kalian jangan berpikir kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, ingatlah surga!" Setelah berkata demikian, dia maju mendesak kaum musyrikin, diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat, menebas musuh-musuh musuh Allah yang datang mendekat. 

Melihat prajuritnya berguguran, Musailamah dan kawan-kawannya kecut dan gentar. Mereka lari tunggang-langgang dan berlindung di sebuah benteng yang terkenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut, kerana banyaknya manusia yang terbunuh dalam kebun itu.


3. Kisah Heroik al-Bara' di Medan Perang

Kebun Maut adalah benteng terakhir bagi Musailamah dan pasukannya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Sang pendusta dan pengikutnya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam. Dari puncak benteng, mereka menghujani kaum Muslimin yang mencoba masuk dengan panah. Menghadapi keadaan yang demikian, kaum Muslimin sempat kebingungan. 

Dalam benak Al-Barra' muncul ide. Ia pun berteriak, "Angkat tubuhku dengan galah dan lindungi dengan perisai dari panah-panah musuh. Lalu lemparkan aku ke dalam benteng musuh. Biarkah aku syahid untuk membukakan pintu, agar kalian bisa menerobos masuk." Dalam sekejap, tubuh kerempeng Al-Barra' telah dilemparkan ke dalam benteng. Begitu mendarat di benteng bagian dalam, ia langsung membuka pintu gerbang. Dan kaum Muslimin pun membanjir menerobos masuk. Pedang mereka berkelebat menyambar tubuh dan kepala musuh. Lebih dari 20.000 orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka; Musailamah Al-Kadzdzab. Jasa Al-Barra' begitu besar. Lebih dari sebulan lamanya ia terpaksa dirawat akibat luka-luka yang dideritanya. Akhirnya ia sembuh kembali. Sebenarnya Al-Barra' bin Malik sangat merindukan mati syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di Kebun Maut. Sejak itu ia selalu menceburkan diri ke kancah peperangan. Ia sangat rindu bertemu Rasulullah saw.

Tatkala Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Al-Barra' bin Malik tidak mau ketinggalan. Kala itu, pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar. Kaum Muslimin mengepung benteng tersebut dengan ketat. Dalam keadaan demikian, pasukan Persia menggunakan berbagai cara untuk menaklukkan kaum Muslimin. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung rantai besi yang dipanaskan. Rantai tersebut mereka lemparkan kepada pasukan Muslimin sehingga sebagian dari mereka tersambar pengait panas itu. Banyak pasukan Islam yang tersambar pengait, di antaranya adalah Anas bin Malik, saudara Al-Barra' bin Malik. 

Selama beberapa saat, Anas tidak mampu melepaskan diri dari besi panas yang mengaitnya. Melihat hal itu, Al-Barra' bin Malik segera melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya. Tangan Al-Barra' bin Malik melepuh dan terbakar karena memegang pengait yang panas membara. Namun ia tak mempedulikannya, yang penting baginya adalah keselamatan saudaranya. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan Anas walaupun kedua telapak tangannya lepas. Daging kedua lengannya meleleh dan hanya tinggal kerangka. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Dalam Perang Tustar ini juga, Al-Barra' bin Malik memohon kepada Allah agar gugur sebagai syahid. Doanya dikabulkan, ia pun gugur sebagai syahid dengan wajah tersenyum bahagia.


Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.


ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”


Sumber;
www.jadipintar.com
www.republika.co.id
al-adiyat.blogspot.com

Posting Komentar untuk "Kisah Al Bara’ bin Malik - Saudara Anas Bin Malik Penyerbu Benteng Musailamah Al-Kadzdzab"