Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tuntunan Islam dalam Memandang dan Menyikapi Hal-Hal Ghaib

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Al-Ishlah │ Alam Jin adalah bagian dari alam ghaib, Alam yang tak tersentuh oleh panca indera manusia, karenanya perlu ada penjelasan yang akurat dari sumber terpercaya, yang bisa dijadikan rujukan oleh setiap muslim. Hingga tidak ada keraguan dalam meyakini keberadaannya apalagi menyelewengkannya hingga menimbulkan fitnah dan kesyirikan di kalangan masyarakat.


Jika kita memperhatikan fenomena gencarnya tayangan atau eksploitasi peristiwa dan tempat-tempat yang berbau mistis dari media massa, maka akan terlihat bahwa pengetahuan menyikapi hal-hal ghaib sudah mendesak. Agar umat tahu mana yang benar (ada dasarnya) dan mana yang hanya mistik/anggapan belaka. Hal ini menjadi penting adanya, karena berhubungan dengan aqidah / keimanan sebagai seorang Muslim, apalagi jika sampai jatuh ke dalam jurang syirik yang Allah tidak berkenan mengampuni dosanya, naudzu billaahi min dzalik. 

Maka bagi yang belum punya bekal pengetahuan yang benar dan cukup, sebaiknya membaca dan menelaah artikel ini, atau anda tidak usah dulu menonton acara-acara berbau ghaib di televisi .


Berikut ini beberapa prinsip Islam yang harus di ketahui agar saat kita menerima informasi tentang dunia Jin, tidak melahirkan keyakinan yang salah dan menyimpang.




1. Prinsip Islam dalam Menjelajah Alam Jin

Ikuti panduan Al-Qur’an dan as-Sunnah, jangan cari referensi sembarangan untuk menjelajah alam Jin agar tidak tersesat di jalan. Setiap informasi tentang alam Jin yang tidak bersumber dari keduanya harus kita tolak, apalagi info itu bertentangan dengan keduanya. Kita tidak boleh mendahului ketentuan al-Qur’an dan as-Sunnah atau berseberangan dengan keduanya. Allah berfirman dalam al-Qur’an: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Wahai orang orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. al-Hujurat 49:1).
Jin punya misi hidup yang sama dengan manusia. Allah menciptakan Jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. (QS. adz-Dzariat 51:56).
Jin diciptakan dari percikan api yang sangat panas, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an. وَخَلَقَ الْجَانَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ“Dan dia (Allah) menciptakan Jin dari percikan api neraka”. (QS. ar-Rahman 55:15).
Jin adalah ummat seperti halnya manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang mukmin dan ada yang kafir. Mereka bertingkat tingkat, seperti yang dijelaskan oleh Allah, وَأَنَّا مِنَّاالصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا “Dan sesungguhnya di antara kami (Jin) ada yang sholeh dan di antara kami ada yang tidak demikian kami berbeda beda jalan hidup kami”. (QS. al-Jin 72:11).
Iblis adalah termasuk komunitas Jin, karena ia membangkang perintah Allah maka disebut dengan Iblis. Ia bukanlah dari golongan malaikat. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah,وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ “Dan ketika kami katakan kepada para malaikat bersujudlah kalian kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua kecuali Iblis adalah dia dari golongan Jin maka dia durhaka dari perintah tuhannya”. (QS. al-Kahfi 18:50). 
Jin bisa melihat wujud asli manusia sedangkan manusia tidak bisa melihat wujud asli Jin, kecuali kalau dia menampakkan diri (berubah wujud). Seperti yang difirmankan Allah, إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ “Sesungguhnya dia (Iblis) dan bangsanya bisa melihat kalian wahai manusia dan kalian tak bisa melihat mereka”. (QS. al-A’raf 7:27). Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar lolongan anJing atau ringkikan keledai di malam hari, maka berlindunglah kepada Allah. Karena mereka (hewan tersebut) melihat apa yang tidak bisa kalian lihat.” (HR. Abu Daud).
Syetan itu sifat. Syetan bukan sosok makhluk tersendiri, tapi hanyalah sifat dan sebutan bagi setiap pembangkang dari golongan Jin dan manusia, dan sebagai musuh bagi setiap orang beriman. Terkadang Allah menyebut Iblis dalam al-Qur’an dengan sebutan syetan. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ “Dan demikianlah kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin”.(QS. al- An`am 6:112).
Haram minta pertolongan kepada Jin. Meminta pertolongan Jin atau kerjasama dengan mereka hukumnya haram, karena Jin tidak akan pernah membantu manusia kecuali dengan imbalan. Allah berfirman, وَأَنَّهُ كَانَرِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan sesungguhnya ada sekelompok laki laki dari manusia meminta pertolongan kepada laki laki dari kelompok Jin maka bertambalah bagi mereka kesesatan”. (QS. al-Jin 72: 6).
Jaminan perlindungan dari Allah. Orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan syirik mereka mendapat jaminan perlindungan dari Allah dari kejahatan Jin. Al-Qur’an menyatakan, الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ “Dan orang orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka akan mendapatkan keselamatan dan mereka itulah oarang orang yang di beri petunjuk”. (QS. al-An`am 6:82).
Gangguan Jin itu mushibah. Orang mukmin yang terkena gangguan Jin berarti mushibah yang menjadi ujian dari Allah, maka kita harus membantunya dan jangan mencibir atau mengucilkannya. Gangguan Jin pada seseorang itu seperti sakit medis (fisik) yang dialami seseorang. Jika Allah tidak menghendaki gangguan itu terjadi, maka tak akan terjadi. Jika Dia menghendaki, maka terjadilah. وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ “Dan mereka (para tukang sihir) tidak bisa memberi madharat (bahaya) dengan sihirnya pada seorangpun kecuali dengan izin Allah.”. (QS. al-Baqarah 2:102).
Kesurupan Jin pada manusia itu benar adanya, bukan mitos atau takhayul. Jin bisa masuk dalam tubuh manusia dan mengalir dalam tubuhnya melalui aliran darah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah”. (HR. Muslim).
Gangguan Jin pada manusia merupakan perbuatan dhalim. Gangguan Jin terhadap manusia dengan masuk ke dalam jasadnya adalah tindakan zhalim yang harus di hentikan untuk keselamatan yang dizhalimi dan yang menzhalimi. Rasulullah bersabda, “Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi, para shahabat bertanya : ‘Ya Rasullallah bagaimana cara menolong orang yang menzhalimi?’ Jawab Beliau, “Hentikan ia dari perbuatan zhalimnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Ruqyah syar’iyah solusi cerdas dan tepat serta aman. Jika kita atau orang lain diganggu Jin, obatilah dengan terapi ruqyah yang syar’iyah (sesuai tuntunan Rasulullah). Ruqyah syar’iyyah adalah terapi solutif yang tepat dan dijamin aman dari kesyirikan. Alllah berpesan: وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan jika kamu ditimpa suatu gangguan syetan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-A’raf 7:200). ‘Aisyah ra. bercerita, ketika Rasulullah masuk rumahnya, saat itu dia sedang mengobati atau meruqyah seorang wanita. Maka beliau bersabda: ”Obatilah ia dengan al-Qur’an”. (Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).
Jihad dengan praktik Ruqyah syar’iyah. Terapi ruqyah syari`yyah adalah bagian dari jihad fi sabilillah, karena kita melawan para tukang sihir, para dukun sesat, serta melawan kejahatan musuh Allah, yaitu syetan atau Jin zhalim. Maka jangan asal ruqyah, pastikan terapi ruqyah yang kita pilih adalah yang syar’iyah. Karena di luaran sana banyak praktik ruqyah syirik/ruqyah syar’iyah gadungan. Mari kita dukung praktik ruqyah syar’iyah untuk mengikis bejibunnya praktik perdukunan yang marak di masyarakat. Allah berfirman, الَّذِينَ آمَنُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُواْ أَوْلِيَاء الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah”. (QS. an-Nisa’4:76).
Jin makhluk ghaib tapi tidak mengetahui segala keghaiban. Jin walaupun masuk dalam kategori makhluk ghaib, tapi tidak serta merta mereka tahu segala yang ghaib. Mereka punya keterbatasan seperti halnya manusia. Jin mengakui sendiri akan kelemahan dan keterbatasan mereka tersebut seperti yang diberitakan Allah dalam al-Qur’an: وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَبِمَن فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”.(QS. Al-Jin 72:10). Di ayat yang lain Allah menyatakan, فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَن لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, Jin baru mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba’34:14).



2. Kesimpulan:

Masalah ghaib tidak hanya seputar kehidupan Jin, syetan, hantu dan sejenisnya saja. Adanya Allah dan para malaikat-Nya, Surga dan neraka, kehidupan di alam barzakh, kebangkitan manusia di padang makhsyar adalah termasuk keghaiban yang tidak diketahui manusia atau Jin, tapi harus dipercayai dan dijadikan sebagai pilar-pilar iman. Semua itu menjadi rahasia Allah dan Rasul yang telah diberi wahyu tentangnya. Dan masih banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan kita, yang termasuk kategori ghaib karena tidak bisa kita indra dengan panca indra. وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tiada suatu pun yang basah dan kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. al-An’am 6:59).
Nabi Muhammad saw. sendiri tidak mengetahui perkara yang ghaib, kecuali jika Allah mengizinkan. Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk meberitahukan kepada umatnya tentang ketidaktahuannya seputar yang ghaib, قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ “Katakanlah, Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’raf 7:188).
Hindarilah atau janganlah berbicara tentang hal yang ghaib bila tanpa dasar yang valid dan autentik, yaitu Syari’at Islam, termasuk berbicara seputar kehidupan Jin dan syetan agar keimanan pada yang ghaib dan aqidah kita tidak salah.


Wallahu A’lam.


ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”




Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.

Sumber: 

http://metafisis.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Tuntunan Islam dalam Memandang dan Menyikapi Hal-Hal Ghaib"