ANAK ADALAH TAKDIR

|

Al-Ishlah │ ANAK ADALAH TAKDIR

By: Ust. Irwan Rinaldi di Mesjid Asy Syarif BSD.


Ayah Irwan, begitu orang mengenal beliau. Seorang penulis dan pendakwah yang memiliki kepedulian tinggi  terhadap masalah pengasuhan anak atau parenting, terutama tentang peran keayahan. 

Ustadz membuka sharingnya dengan mengutip perkataan Ibnu Qayyim yang lebih kurang seperti ini,

"Kalau anakmu bermasalah, bertingkah tidak sesuai tuntunan Allah, yang pertama kali kamu tunjuk adalah dirimu, ingat lagi seberapa dekat dirimu dengan Allah." 

Jleb! Jamaah langsung terdiam.
(Termasuk yang nulis iniπŸ™ˆ)

Baca artikel tentang Hikmah

Di tengah maraknya seminar parenting, workshop ayahbunda dan sebagainya dengan segala teori dan tipsnya, kata Ayah Irwan ada dua hal yang perlu diingat oleh orang tua dalam periode membesarkan anak.

1.  Hubungan orang tua dengan yang mengamanahkan anak yaitu Allah.

Bagaimana hubungan kita dengan yang memberi amanah? Apakah "baik-baik" saja? Ataukah kita hanya khusu' mengingat-Nya ketika diuji saja? Silakan refleksi sejenak..

2. Konsep dan pola pengasuhan dengan pasangan apakah sejalan atau berbeda "mahzab".

Antara kita dan pasangan apakah sepakat dalam pola dan cara pengasuhan anak?Yang paling sederhana misalnya dalam hal membelikan barang, apakah ketika anak minta A ayah dan ibu sepakat untuk membelikan atau sepakat untuk tidak membelikan, atau Ayah bilang tidak tapi Ibu karena kasihan membelikannya tanpa sepengetahuan Ayah?
Karakter apa yg akan terbentuk di anak   ketika sering berhadapan dengan situasi ini?

Kemudian selain dua hal diatas, perlu juga diingat tiga Poin Penting dalam Ilmu Pengasuhan Anak, yaitu :

1. Anak adalah takdir Allah

Suami istri harus sepakat bahwasanya anak-anak adalah takdir Allah, dan Ayah Ibu juga ditakdirkan menjadi orang tua mereka.

Contoh kasus sehari-hari:

Ayah sedang baca koran, Ibu sedang menyiram tanaman, lalu anak lewat dengan ingus naik turun dan berhenti di depan Ayah.

Anak: Yah, yah.. ( sambil narik ingus)
Ayah: Sana Dek ke Ibu dulu minta lap-in ingusnya.

*
Baca artikel tentang Kiat Sukses Mendidik Anak

Ayah yang sadar kalau anak adalah takdir Allah, dia akan dengan sigap membantu membersihkan ingus si anak sambil mendoakan, "Ya Allah Ya Karim berikan kesembuhan untuk anakku. "Karena hal ini akan diingat oleh anak sampai besar.
Ketika nanti mereka punya masalah, mereka tidak akan mencari orang lain, tapi ayahnya.

Anak ditakdirkan mendapatkan perhatian ayahnya. Kehadiran ayah harus serta merta dengan jiwanya, bukan secara fisik saja. 

2. Anak adalah amanah

Menurut Ayah Irwan, banyak orangtua yang tidak menyadari pentingnya usia emas anak. Masa ideal untuk membentuk karakter dan akhlak mereka, idealnya kata beliau dimulai dimulai  dari usia 0 hingga 15 tahun (dibagi beberapa tanapan). Pengasuhan boleh saja dibantu orang lain, tapi tetap Ayah Ibu adalah 2 kunci utama pemegang amanah Allah. Anak butuh sosok ayah dan ibu untuk mengasah potensi terbaik mereka. Jadi orang tua harus "habis-habisan" dalam hal mengasuh anak di usia tersebut.

Karena anak adalah amanah berdua, konsep suami istri juga harus seiring sejalan dalam membesarkan mereka sehingga tidak ada celah untuk anak minta pembelaan, excuse dari salah satu, di kemudian hari. 

3. Anak adalah tanggungjawab orang tua yang akan DIMINTA pertanggungjawabannya kembali.
Apa pendidikan yang kita berikan menunjukkan mereka jalan ke surga atau malah sebaliknya?

Nah kemudian, ayah Irwan juga menyampaikan beberapa tips parenting yang bisa kita praktekkan bersama-sama sesuai usia anak, apa itu? 

1. Jangan berinteraksi dengan anak sambil nonton atau sambil pegang HP karena di kemudian hari jika Ayah Ibu mengajak mereka bicara, mereka juga akan melakukannya sambil disambi.

2. Pegang Al Quran, lantunkan ayat suci. 

Anak usia sapih (0-24m) mampu menyerap 6000 kata per hari, jadi alangkah ruginya jika kata-kata yang keluar dari mulut orang tua adalah kata-kata kasar dan tidak bermanfaat.

3. Lakukan bonding lewat sentuhan dan belaian ( usap kepala dan pegang pundak anak)
Misalnya, sambil bermain dengan anak atau mengantar anak tidur, pegang tangan dan kakinya.  "Ya Allah ya Karim semoga nanti kaki tangan ini hanya akan berbuat dan melangkah di jalanMu saja.'

4. BUKA dan TUTUP hari anak dengan kalimat thayyib.

Bangun dan antarkan anak tidur dengan kalimat Allah.

Bukalah hari anak dengan Allah dan Rasul-Nya (stimulan pertama yg dia dengar haruslah yang baik, yang lemah lembut) lalu tutuplah lagi dengan kalimat Allah dan Rasulnya

Misal: bacakan kisah Rasul atau doa2.

5. Berikan "hadiah-hadiah" pada anak.

Misalnya sebelum tidur, hadiahkan anak2 dengan hafalan surat pendek. Dari pengalaman, anak-anak akan jadi terbiasa, lalu kalau Ayah Ibu cek, sebulan dua bulan, hafalan mereka akan membaik.  Karena hal-hal dan dan perhatian-perhatian sekecil apapun akan terekam dalam memori anak.

6. Jangan ajarkan anak mencari tumbal
Pernah nggak teman-teman mengalami atau melihat kejadian, ada anak kecil kepentok meja karena lari2an trus nangis jejeritan. Lalu dengan sigap ibundanya datang dan bertanya ...
Ibu: siapa yg nakal? 
Anak: (nangis)
Ibu: Oooh ini..nakal nih mejanya ( lalu dipukulin) dijadiin tumbal.

Hati2 dgn perilaku ini, karena akan terinternalized dalam diri anak bahwa dia bisa mencari tumbal (dalam hal ini meja dijadikan tumbal) padahal yang salah kan anak yang nggak melihat. Nah sampai dewasa anak-anak akan suka mencari tumbal. mereka akan cari tumbal ketika ada masalah di kerjaan, di keluarga atau dimana saja.

INTINYA, menurut beliau, betapa sebuah tindakan kecil seorang ayah terhadap anaknya bisa meresap masuk ke dalam long term memory si anak. Disadari atau tidak oleh orang tua lebih jauhnya hal2 kecil tsb bisa menjadi pondasi karakter yang sulit diubah bahkan terbawa hingga dewasa. Memori manis yang terekam akan menjadi awal pembentukan karakter positif. Sedangkan kenangan pahit dan kelam yang terekam tentunya juga menjadi role model bagi anak dalam bersikap di masa dewasa.

Gak mudah yaaa jadi orang tua, tapi InsyaAllah kita bisa sama2 belajar😊

Sumber WA Grup

Baca juga Artikel Selanjutnya

Related Posts

0 komentar: