Loyalitas dan Anti Loyalitas (al wala'u wa albaraa'u)

|

Al-Ishlah │ Syahadat tauhid (laa ilaha illallahu) terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah kalimat nafi' (laa) yang berarti tidak. [QS.16:36] dan manfi (ilah) yang berarti dinafikan atau ditolak [QS.4:48; 4:116; 47:19]. Pada bagian ini adalah penolakan (al bara') terhadap segala macam bentuk ilah [QS.60:40; 9:1; 47:7; 58:22; 26:77] dalam bentuk : pengingkaran (al kufru), permusuhan (al 'adawah), pemisahan diri (al mufashalah), dan kebencian (al bu'dhu), lalu ia pun menghancurkannya (al hadam) [QS.21:57-58]

Bagian kedua adalah kalimat itsbat (illa) yang berarti pengecualian [QS.7:59, 65, 73] dan mutsbat (Allah) artinya yang dikecualikan atau yang dikukuhkan [QS.7:59, 65, 73]. Bagian ini adalah pengukuhan loyalitas (al wala') yang ditujukan hanya kepada Allah [QS.9:24; 5:7; 2:285; 10:61-62; 2:165; 61:14] dalam bentuk keta'atan (ath tho'ah), pembelaan (an nashr), kedekatan (al qurb), dan kecintaan (al mahabbah) kepada Nya. Pengukuhan loyalitas itu terus menerus dibangun (al bina) [QS.22:41; 24:55; 22:78].

Laa ilaaha illallah berarti menolak segala bentuk ilah (tuhan) dan hanya mengakui satu ilah (tuhan) yang haq yaitu Allah swt. Semua itu adalah syarat sempurnanya keikhlasan ibadah dan pengabdian seorang hamba kepada Allah (al ikhlash). [QS.98:5; 39:11, 14] 

Syahdat Rasul (Muhammad rasulullah) artinya adalah pengakuan terhadap Muhammad bin Abdullah sebagai rasul Allah yang menyampaikan konsep loyalitas dan penolakan itu (minhajul wala' wa albara'). Allah adalah sumbernya (masdar) [QS.5:55-56; 4:59]. Rasul penuntunnya (kaifiyah) [QS.31:15], dan kaum mukmin pelaksananya (tanfidz) [QS.60:7-9].

Dalam praktek pembangunan loyalitas dan penghancuran ilah selain Allah (kaifiyatul bina' wal hadam), harus mengikuti (al ittiba') metode Rasulullah saw yang dengan sangat elegan menerapkan al wala' wal bara' di dalam kehidupan [QS.3:31]. Sehingga nantinya tidak akan melahirkan aksi yang sekadar radikal dan eksklusif di tengah masyarakat. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa cara beragama yang paling dicintai Allah adalah al hanifiyatus samhah (kemurnian akidah dan keluwesan dalam muamalah).

Related Posts

0 komentar: