Urgensi Mengenal Allah (Ahammiyyatu ma'rifatillah)

|


أهمية معر فة الله


Al-Ishlah │ Ibnu Athoillah pernah mengatankan "Allah telah ada dan tiada sesuatupun bersama-Nya, dan kini Dia tetap ada sebagaimana dahulu kala". Mengenal Allah sangatlah penting bagi seorang mukmin. [QS.47:19, 3:18, 22:72-73, 39:67] karena:

Tema (al maudhu')

Allah yang kita bicarakan ini adalah Allah Sang Pencipta seluruh alam semesta ini (Allahu Rabbul 'Alamin)[QS.13:16, 6:12, 6:19, 27:59, 24:35, 2:255], yang kecil dan yang besar, yang tampak dimata maupun tidak (ghaib) termasuk kita di dalamnya. Maka tentu megenal zat yang menciptakan kita sangatlah penting (urgen), agar kita tahu harus berbuat apa untuk Sang Pencipta kita. Ibnu Athoillah mengatakan dalam kitabnya: "Bagaimana mungkin dapat digambarkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal kalau tidak ada Dia maka tidak akan ada segala sesuatu".

Dalil-dalil yang ada sangat kuat (quwwatud dalil).

Dalil-dalil yang menunjukkan bukti keberadaan Allah sangat kuat. Dalil-dalil yang dimaksud dalam Islam adalah dalil naqli (nash, tertulis dalam kitab)[QS.6:19] dan dalil aqli (logika, akal)[QS. 3:190], serta dalil fitri (fitrah, sunnatullah)[QS.7:172]. Semua dalil itu telah membuktikan keberadaan zat, sifat-sifat dan nama-namanya secara jelas dan tak terbantahkan. Ibnu Athoillah pernah berkata "Bagaimana mungkin dapat digambarkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia selalu tampak pada segala sesuatu".


Buah atau pengaruh (ats tsamrah) ma'rifatullah

Buah atau pengaruh dari pendalaman materi ini sangat besar yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan (ziyadatul imani wat taqwa). Pengaruh lebih konkrit terhadap orang-orang beriman adalah:

Kebebasan atau kemerdekaan sejati (al hurriyah) [QS.6:82]. Terutama jiwanya yang takut dan berharap hanya kepada Allah, tidak ada yang mengendalikannya selain Allah swt.

Ketentraman yang sejati (ath thuma'ninah) [QS.13:28]. Seseorang mukmin hanya akan merasa tenang dan tentram di bawah jaminan dan perlindungan Allah dalam kehidupannya.

Keberkahan dari Allah (al barokah) [QS.7:96]. Cinta dan kebersamaan Allah menjadikan hidupnya senantiasa diberkahi oleh Allah.

Kehidupan dan penghidupan yang baik (al hayatuth thayyibah) [QS.16:97]. Dalam menjalani kehidupan untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan, Allah senantiasa memberi bimbingan dan kemudahan kepadanya

Surga (al jannah) [QS.10:25-26] telah menanti orang-orang yang beriman dan mengenal Allah dengan baik.

Keridhaan Allah (mardhatullah) [QS.98:8] di surga adalah puncak kebahagiaan seorang mukmin, dimana ia akan dipertemukan dengan wajah Allah yang hanya dikenalnya di dunia secara ghaib

"Ketaatanmu tidak bermanfaat untuk-Nya, dan kedurhakaamu pun tidak akan memudharatkan-Nya. Kalau Allah memerintahkanmu dengan perintah tertentu atau mencegahmu dengan larangan tertentu, itu hanya karena sesuatu yang akan kembali kepada dirimu sendiri"

Baca materi berikutnya tentang Cara mengenal Allah Sang Pencipta

Related Posts

0 komentar: