Tercelanya Kedengkian (Hasad)

shares

Al-Ishlah │ Di dalam kitab Tazkiyatunnafs dijelaskan bahwa kedengkian (hasad) adalah mengharapkan lenyapnya ni'mat dari orang yang didengki. Hal ini dalam beberapa keadaannya merupakan salah satu dosa besar. Dapat kita bayangkan seandainya penyakit dengki telah menyebar luas dan setiap orang yang dengki mulai memperdaya setiap orang yang memiliki nikmat maka pada saat itu tipu daya telah menyebar luas pula dan tidak seorangpun yang dapat selamat dari keburukkannya, karena setiap orang pembuat tipu daya dan diperdaya. Bayangkanlah bagaimana jadinya kehidupan manusia pada saat itu.Teori marksisme dibangun di atas landasan kedengkian lalu menimbulkan pertentangan kelas. Seandainya tidak ada kekuasaan negar di negara Marksisme dan kekuatan jaringan intelijen pasti telah terjadi pertentangan yang tidak ada habisnya akibat penyakit dengki. Oleh karena itu, kedengkian merupakan penghancur kehidupan manusia sebab kehidupan tidak mungkin ditegakkan dengan kedengkian. Sebagaiman kehidupan manusia terancam punah dengan sebab kedengkian, demikian pula kelompok, komunitas atau jama'ah apa saja terancam pecah akibat penyakit kedengkian. Kedengkian ini pulalah yang menghancurkan penduduk Madyan sebelum ini dan akan menghancurkan ummat ini, bila penyakit ini dibiarkan berkembang di dalamnya.
Nabi Muhammad saw pernah bersabda:
"Telah menyebar di kalangan kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian yaitu kedengkian dan kebencian, dia adalah pencukur, saya tidak mengatakan pencukur yang mencukur rambut tetapi pencukur yang mencukur agama (HR. Tirmidzi)
Allah swt berfirman di dalam al Qur'an:
"Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka" (QS.as Syura ayat 14)

Imam al Gazhali menjelaskan dengan panjang lebar tentang kedengkian di dalam kitabnya sebagai berikut:
Ketahuilah bahwa kedengkian adalah termasuk dari buah iri hati, sedangkan iri hati termasuk hasil amarah. Jadi kedengkian merupakan cabang dari cabangnya sedangkan amarah adalah asasnya. Kedengkian juga memiliki cabang yang tercela yang tidak bisa dihitung banyaknya. Tentang tercelanya kedengkian ini terdapat banyak riwayat dari Nabi saw. Diantaranya sabda Rasulullah saw:
“Kedengkian itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”
(HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah dan Ibnu Majah dari Anas)

Nabi saw bersabda tentang larangan kedengkian dan sebab-sebabnya serta akibat-akibatnya:

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling memutuskan hubungan, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling memperdaya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”.
(HR.Bukhari dan Muslim)

Anas berkata: Pada suatu hari kami duduk di sisi Rasulullah saw lalu Nabi saw bersabda: “Dari lorong ini sekarang mucul kepada kalian seorang dari penghuni sorga.” Anas berkata: Kemudian muncul kepada kami seorang Anshar seraya  menyeka air wudhu’ di jenggotnya dan menenteng kedua sandalnya di tangan kirinya lalu memberi salam. Keesokan harinya Rasulullah saw bersabda seperti itu lagi lalu orang itu muncul lagi. Pada hari ketiga juga terjadi yang demikian.  Setelah Nabi saw bangkit, Abdulah bin Amir bin al Ash mengikuti orang itu lalu berkata kepadanya: Sesungguhnya aku bertengkar dengan bapakku lalu aku bersumpah untuk tidak masuk kepadanya selama tiga hari, maukah engkau menampungku selama tiga hari? Ia menjawab : Ya.  Kemudian Abdullah menginap di rumahnya selama tiga malam, tetapi tidak pernah melihatnya bangun malam hari kecuali jika berbalik dari tempat tidurnya ia menyebut Allah dan tidak bangun kecuali untuk sholat subuh. Abdullah berkata: Tatapi aku tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan. Setelah tiga hari dan aku hampir menyepelekan amalnya, aku berkata: “Wahai hamba Allah, sebenarnya akut tidak pernah bertengkar dengan bapakku, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda begini dan begitu, lalu aku ingin mengetahui amal perbuatanmu tetapi aku tidak melihatmu melakukan perbuatan yang banyak, lalu apakah gerangan yang membuatmu mencapai tingkatan tersebut? Ia menjawab: “ Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat”. Ketika aku kembali (pergi) ia memanggilku lagi seraya berkata: Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci  dan dengki kepada salah seorang kaum muslimin yang dikaruniakan Allah kebaikan.” Abdullah berkata: Kemudian aku berkata kepadanya, “Itulah yang membuatmu mencapai tingkatan itu, dan itulah yang tidak mampu kami lakukan.”(Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad sahih menurut syarat Muslim dan Bukhari dan al Bazzar juga meriwayatkannya).

Nabi saw bersabda:
“Tiga hal yang tidak seorangpun akan selamat darinya: Prsangka, meyakini kesialan sesuatu dan kedengkian. Aku akan menjelaskan kepada kalian jalan keluar dari hal tersebut: Apabila kamu berprasangka maka jangan kamu realisasikan; apabila kamu meyakini kesialan sesuatu maka melajulah terus; dan apabila kamu mendengki maka janganlah kamu memperturutkan.”
(HR. Ibnu Abu Dunya dan Tabrani)

Related Posts

0 komentar: