Perjalanan Menuju Allah (Kajian Al-Hikam)

|

Al-Ishlah │ Ibnu Atho'illah berkata: "Sebagian dari tanda ketergantungan kepada amal ialah kurangnya raja' (harapan) ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa". Sa'id Hawwa dalam kitabnya shiddiqun rabbaniyyuna menjelaskan perkataan atau nasehat Ibnu Atho'illah sebagai berikut:

Untuk meraih keridhoan Allah, seorang muslim diwajibkan dengan amal dan dalam waktu yang sama ia diwajibkan untuk tidak bersandar kepada amalnya. Hal ini dimaksudkan agar ia dapat sampai kepada keridhoan Allah, sebab betapapun ia telah melaksanakan suatu amal, ia tidak dapat menunaikan hak Allah, dan tidak dapat melakukan kewajiban untuk mensyukuri-Nya. Di dalam al Qur'an Surat 'Abasa ayat 23 Allah berfirman:


"Sekali-kali tidak; Manusia itu belum melakukan apa yang diperintahkan kepadanya".


(QS. 'Abasa:23) 


Dan di dalam Surat Ibrahim ayat 34 Allah juga berfirman:


"Dan jika kamu sekalian menghitung nikmat Allah, kamu sekalian tidak akan dapat menghitungnya"


(QS. Ibrahim:34)


Karena itu seorang Muslim dituntut untuk tidak bergantung kepada amalnya. Dalam sebuah hadist Rasulullah saw bersabda:


"Berlakulah kamu setepat dan sedekat mungkin (tidak berlebihan dan tidak kurang). Ketahuilah bahwa amal salah seorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dalam sorga. "Mereka bertanya: "Tidak pula engkau ya Rasulallah? "Baginda bersabda:"Aku pun tidak, Hanya Saja Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmat".


(HR. Enam Imam)


Dalam meninggalkan ketergantungan kepada amal terdapat banyak hikmah yang bertautan denga pemahaman tentang Allah dan yang berhubungan dengan pembersihan jiwa. Bersandar kepada amal menyebabkan tertipu, 'ujub, lancang dan tidak sopan terhadap Allah serta merasa dirinya mempunyai hak-hak di sisi Allah, dan semua itu berbahaya, dan itu bertentangan dengan maqam-maqom siddiqun, maka Ibnu Atho'illah mengawali pembahasannya dengan cara menunjukkan kepada kita parameter yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apakah kita bersandar kepada amal-amal shaleh kiya, lantas kita melupakan kewajiban yang kedua yaitu bersandar kepada Allah Ta'ala.

Apakah tanda-tanda yang menunjukkan bahwa anda bersandar kepada amal-amal anda, atau anda bergantung kepada Allah? Tentu Syaikh Ibnu Atho'illah tidak mengatakan: "Tinggalkanlah amal-amalmu! Bahkan beliau memotivasi kita untuk beramal. Namun ia ingin mengarahkan perhatian kita pada satu persoalan yang dari celah-celahnya kita dapat mengetahui apakah kita bersandar kepada Allah, atau kepada amal. Yang demikian itu dikarenakan seorang Muslim harus selalu memilikikeyakinan yang sempurna terhadap Allah dalam setiap keadaan, dan hendaknya keyakinanitu perlahan-lahan kian meningkat dan berkembang.

Ketika anda dapati diri anda telah tergelincir dan telah berbuat kesalahan, lantas hal itu mengakibatkan berkurangnya keyakinan terhadap Allah dan susutnya penyandaran diri kepad-Nya, maka itu menunjukkan bahwa pada dasarnya anda bersandar kepada amal-amal anda dan tidak bergantung kepada Allah. Karena itu beliau berkata : "Sebagian dari tanda ketergantungan kepada amal adalah hilangnya roja'(pengharapan kepada Allah) ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa.

Jika keyakinan anda terhadap Allah begitu sempurna, dan jika harapan anda terhadap Allah pun maksimal, maka segala apa yang terjadi tidak akan mempengaruhi dasar pengharapan, keyakinan, dan tawakkal kepada Allah. Jika anda jatuh dalam dosa, maka anda bertobat kepada Allah dengan meyakini kesempurnaan tobat anda. Dunia selalu berubah terhadap anda, namun keyakinan dan kepasrahan kepada Allah tidak pernah goyah, bahkan terus menerus berkembang. Jika terjadi kegagalan dalam urusan duniawi, atau sebab-sebab (untuk memperolehnya) melemah, atau anda jatuh dalam dosa dan maksiat, lalu karena itu semua menjadi ringan keyakinan anda, menyusut harapan dan tawakkal anda kepada Allah,itu artinya anda dihinggapi banyak kesalahan, yaitu anda bersandar kepada amal dan tidak bergantung kepada Allah. Karena itu, hendaklah anda meneliti kembali diri anda, dan memperkokoh penyandaran diri kepada Allah dalam segenap keadaan. Kewajiban-kewajiban syari'at pun mesti anda tunaikan, yaitu taubat, mengoreksi diri, dan melakukan sebab-sebab (usaha).

Related Posts

0 komentar: