Niat - Menentukan Nilai Amal

shares

Al-Ishlah │ Dalamnya lautan dapat diukur orang, dalamnya hati hanya Allah yang tahu. Sahabat blogger..! Di dalam hati yang tak terukur oleh manusia itu terdapat suatu hal yang menjadi penentu bernilai atau tidaknya setiap sikap dan tindakan manusia di hadapan Allah swt. Sebuah lagu religius pernah mengungkapkan sebagai berikut " Hati tempat jatuhnya pandangan Allah, Jasad lahir tumpuan manusia, utamakanlah pandangan Allah, dari pada pandangan manusia". Sungguh ungkapan di atas adalah sebuah ungkapan yang indah dan penuh makna, betapa tidak hati adalah tempat penilaian Allah kepada hambanya yang tidak diketahui oleh malaikat sekalipun. 

Imam Bukhari di dalam kitabnya yang spektakuler yaitu Sahih Bukhari menuliskan perkara niat (sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya) ini sebagai pembuka dari kitabnya, padahal bab pertama dari kitab beliau ini tidak menyangkut perkara ini. Barangkali beliau hendak menyampaikan kepada kita bahwa betapa tidak berartinya beliau menuliskan kitab hadis tersebut, betapa tidak bernilainya kita dalam mempelajari kitab beliau sebelum kita memasang niat yang lurus di hati kita. Bagaimana mungkin setiap amal itu tidak akan bernilai di sisi Allah swt jika tidak disertai dengan niat yang lurus untuk mengabdi kepadanya? Sahabat! Mungkin ilustrasi berikut bisa kita jadikan bahan pertimbangan sekalipun tidak seratus persen mengambarkan pertimbangan penilaian Allah kepada para hambanya.

Jika suatu saat ada seorang nenek berjalan di jalan raya, kemudian secara tiba-tiba melintas sebuah mobil yang kalau tidak ada perlakuan tertentu nenek ini pasti tertabrak. Karena kita ada disitu dengan spontan mengambil tindakan menarik atau mendorong nenek tersebut agar terhindar dari tabarakan maut. Namun hasil tampaknya berbeda, nenek tersebut memang tidak ditambrak mobil akan tetapi beliau terjatuh dan tangannya patah. Bagaimana penilaian kita terhadap orang yang mendorong atau menarik nenek tersebut? apakah patut ia disalahkan karena telah membuat tangan sinenek patah? Silahkan sahabat renungi dalam-dalam.

Jika suatu Jum'at ada seseorang datang ke mesjid paling duluan dengan memakai sandal jepit yang sudah hampir putus, kemudian dia duduk di saf paling depan, sebelum orang-orang selesai berzikir dia sudah pulang duluan dengan membawa sandal yang gagah dan mahal. Bagaimanakah penilaian kita terhadap orang ini? Apakah memang dia yang akan mendapatkan unta merah yang dijanjikan sebagai orang yang awal datang jum'atan? Silahkan juga sahabat renungi.

Sahabat! Kembali ke tema kita bahwa niat adalah perkara hati, yang tentunya tidak mungkin ditipu oleh kata-kata yang manis. Bahkan untuk berniat yang baik itu tidak mesti harus diucapkan dengan kata-kata. Kita tahu bahwa kata-kata itu adalah penilaian manusia sedangkan kata hati itu langsung terkoneksi dengan Sang Pencipta Manusia. Karena itu marilah kita berlatih untuk meluruskan niat yang ada di hati kita sekalipun lidah kita bisu tak mampu berkata, sekali lagi ketahuilah hati adalah tempat jatuhnya pandangan Allah.

Related Posts

0 komentar: