Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makna Tuhan (ma'na al ilah)

Al-Ishlah │ Ilah atau tuhan adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi manusia. Bahkan orang yang tidak meyakini adanya tuhanpun, ketika kepepet terkadang masih mengucapkan kata tuhan (oh my god). Ketika mereka berada dalam bahaya ditengah lautan yang tidak bersahabat, atau dalam pesawat terbang yang sedang diterjang badai, mereka akan mengingat kata yang satu ini, walaupun setelah keadaan kembali menjadi pulih mereka kembali tidak mengakuinya. Kata Ilah terbentuk dari kata kerja aliha. Dalam bahasa Arab alihahu berarti:

1. Merasa tentram kepadanya sehingga ia enggan meninggalkannya (sakinah ilaihi). [QS. 10: 7-8, 7:138]

2. Berlindung dengannya karena kagum dengan kekuatannya, kehebatannya dan kekuasaannya. (istajara bihi)[QS.72:6, 36:74-75]

3. Rindu kepadanya dan berusaha untuk selalu dekat dengannya (tsytaqa ilaihi).[QS.2:93, 20:91, 26:71]

4. Sangat mencintai dengan ketulusan hati (condong) kepadanya (wuli'a bihi). [QS.2:93, 20:91, 26:71]

Bila keempat hal ini diketahui, dirasakan dan diyakini, maka ia akan menyembahnya dan siap mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang dipujanya itu, dengan sepenuh cinta (kamalul mahabbah) [Qs.39:45, 71:23], kerendahan hati (kamalul tadzallul) [QS.21: 59 dan 68], dan ketundukkan tanpa reserve (kamalul khudu') [QS.36:60, 6:137]. Sesuatu yang mendapat perlakuan seperti itulah yang disebut dengan ilah (tuhan). Karena itu dapat kita simpulkan bahwa Ilah (tuhan) itu adalah:

1. Sesuatu yang diharapkan (al marghub) karena kemampuannya memberi manfaat dan memenuhi permintaan. [QS.2:163-164]

2. Sesuatu yang ditakuti (al marhub) karena ia akan marah dan menyiksa siapa yang membangkang kehendaknya. [QS.2:186, 40:60, 94:7-8, 21:90-91, 2:40, 9:13, 33:39]

3. Sesuatu yang diikuti karena jaminan keselamatan darinya (al mathbu'). [QS.51:50, 37:99]

4. Sesuatu yang dicintai karena berbagai kelebihannya (al mabhub). [QS.2:165, 8:2, 9:24]


Karena itulah, maka ia (tuhan) adalah sesuatu yang disembah (al ma'bud) dan dianggap sebagai sesuatu yang maha segalanya karena:

1. Dialah pemilik segala loyalitas (shahibul walayah).

[QS.109:1-6]

"Dan sungguh, Kami telah megutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut'. Kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagai mana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)

[QS.16:36] 

"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa"

[QS. 2:21] 

"Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kiab (al Qur'an), Dia melindungi orang-orang shaleh"

[QS.7:196] 

"Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

[QS.2:257]


2. Pemilik segala ketaatan (shahibul tha'ah).

"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam terhadap siang yang mengikutnya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh Alam" [QS.7:54].

Dari ayat ini tergambar bagi kita bahwa Tuhan yang berhak disembah itu adalah Tuhan yang ditaati oleh seluruh alam semesta ini, bukan Tuhan yang tidak berdaya apa-apa bahkan terhadap dirinya sendiri.


3. Pemilik tunggal kekuasaan (shahibul hakimiyah).

Dalam al Qur'an Surat Yusuf ayat 40 Allah swt menegaskan bahwa pemilik kekuasaan itu hanya Allah semata, dan karena itu hanya Dialah yang berhak disembah bukan selainnya.

"Kamu tidak menyembah yang selain Allah melainkan (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan sesuatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya" [QS12:40], 

Di dalam surat an Nur ayat 1 juga Allah menjelaskan bahwa Allah mewajibkan hukum-hukum Nya kepada manusia dan menyuruh manusia untuk mengingat ayat-ayatnya :


"(Ini adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya" [QS.24:1].

Dalam surat al Ma'idah ayat 44-48 juga dinyatakan:

"Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat yang di dalamya ada petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dnegan Kitab itu diputuskan perkara-perakara orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-oranga alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (at Taurah) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka pun ada qisasnya (balasannya yang sama). Barang siapa yang melepaskan (hak qisas) nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya.Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. 

Dan Kami teruskan jejak mereka dengan mengutus Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu Taurat. Dan kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan membenarkan Kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. 

Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang tidak diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik. 

Dan Kami telah menurunkan Kitab (al Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikann-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan_Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan."[QS.5:44-48]

Islam memandang bahwa segala sesuatu yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan tersebut di atas hanyalah Allah swt. Memperlakukan selain Allah sebagaimana perlakuan yang diberikan kepada Allah swt adalah kemusyrikan yang sangat dibenci Allah swt.

Posting Komentar untuk "Makna Tuhan (ma'na al ilah)"