Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

|


حاجة الإنسان إلى الرسول 

Al-Ishlah │ Manusia (al-insaan) diciptakan oleh Allah dalam keadaan fitrah (al fitrah).[QS. 30:30, 75:14, 27:14]. Rasulullah pernah bersabda bahwa: "Sesungguhnya setiap anak dilahirkan dengan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi."(HR. Muslim). Fitrah adalah suci dengan sifat-sifat dan karakteristik dasar yang asli. Secara fitrah manusia mengakui keberadaan al Khaliq (Wujudul khaliq) [QS. 23: 84-90, 7:172]. 

Allah telah mengatakan di dalam al Qur'an bahwa Allah telah mengambil sumpah anak-anak Adam saat mereka masih berada di sulbi ayah mereka. Maka secara fitrah manusia juga memiliki kecendrungan untuk menyembah Allah swt ('ibadul khaliq) [QS. 2:21, 10:72, 2:128]. Dan secara fitrah manusia juga menginginkan kehidupan yang teratur selaras dan harmonis (al hayatul munazhamah)[QS.28:50]


Untuk merawat fitrah itu dari segala gangguan syaithon, manusia membutuhkan petunjuk dan bimbingan (hidayah). Karena komunikasi langsung tidak mungkin dilakukan antara manusia dengan Allah (di dunia), maka di sinilah urgensinya kebutuhan manusia terhadap "penyampai" informasi dari Sang Pencipta (hajatul insaan ilar-rasul). Untuk itulah Allah swt mengutus malaikat dan manusia pilihannya untuk memberikan petunjuk dan membimbing manusia (hidayatur-rasul) [QS. 3:31, 42:53, 36:1-2].

Para utusan Allah itu mengajari manusia bagaimana mengenal Penciptanya (ma'rifatul khaliq) [QS. 31:10, 3:191] dan tuntunan menjalani kehidupan ini dengan baik (minhajul hayah) [QS 33:21, 3:19 dan 85]. Dengan pengenalan dan tuntunan hidup yang benar itu, manusia dibimbing untuk melakukan ibadah ibadah yang benar (al 'ibadatush-shahihah)[QS.21:25]

Related Posts

0 komentar: