Topik 75: Istaghfir!

|

Bismillahirrahmanirrahim.

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan selesaikan latihan surat An-Nashr. Terakhir kita sudah membahas penggalan pertama ayat 3. Kali ini kita akan tuntaskan pembahasan ayat 3.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
1. fa sabbih bi hamdi rabbika: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu.

2. wa istagfir hu : dan minta ampunlah kepada Dia

3. Innahu : sesungguhnya Dia

4. Kaana : Dia adalah

4. Tawwaabaa: Maha penerima tobat.

Kita sudah membahas fasabbih. Topik kali ini kita akan membahas mengenai point 2 sampai 4. Insya Allah.

Oke baiklah.

واستغفره - wa istaghfir hu

Istaghfir, adalah KKT-8, dalam bentuk fi'il amr (kata kerja perintah).

Asalnya adalah sbb:

غفر - ghafara - mengampuni (KK Asal)
أغفر - aghfara - mengampunkan (KKT-1)
غفر - ghaffara - mengampunkan (KKT-2)
استغفر - istaghfara - minta ampun (KKT-8)

Sedangkan perubahan mendatar (tashrif ishtilahi) dari kata KKT-8 tsb adalah:
1. KKL : استغفر - istaghfara (telah minta ampun)
2. KKS : يستغفر - yastaghfiru (sedang minta ampun)
3. Mashdar: استغفار - istighfaar (pengampunan)
4. Isim Fa'il: مستغفر - mustaghfir (orang yang minta ampun)
5. Isim Maf'ul: مستغفر - mustaghfar (orang yang diampuni)
6. Fi'il amar: استغفر - istaghfir (minta ampunlah!)
7. Fi'il nahy: لا تستغفر - laa tastaghfir (jangan minta ampun!)
8. Isim Zaman/Makan: مستغفر - mustaghfar (tempat / waktu memberi ampun)

Jadi terlihat dalam susunan mendatar tersebut perubahan dari kata istighfar menjadi istaghfir.

Hmm... gimana sih cara tahunya bagaimana tashrif (perubahan) suatu Kata Kerja menjadi 8 macam tsb?

Gini, kalau KKT-1 sampai KKT-8, semua kata kerjanya, kalau mau dicari perubahan bentuknya dari KKLnya sampai Isim Zaman/Makan nya, maka perubahan tersebut mengikuti pola. Artinya, kalau kita tahu polanya maka semua kata kerja tsb bisa kita buatkan perubahannya.

Yang repot adalah bagaimana perubahan dari KK Asal. Nah ini perlu melihat di kamus perubahan (tashrif)nya.

Oke, kita sampai pada bagian terakhir.

إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban

Kita sudah pernah membahas bentuk dan tugas Inna, yaitu menashobkan mubtada' dan merafa'kan khobar. Tapi dalam kalimat diatas, kok tidak terlihat ya dimana mubtada, dimana khobarnya?

Kita juga sudah pernah membahas bentuk dan tugas Kaana, yaitu kebalikan dari tugas Inna. Kaana berfungsi merafa'kan mubtada' dan menashobkan khobar. Tapi, ntar dulu... Dalam kalimat diatas dimana mubtada' dan khobarnya?

Insya Allah kita akan bahas mengenai hal ini, dalam topik ini dan satu topik setelah ini.

Oke, baiklah. Kita sudah tahu fungsi Inna. Contohnya:

الله ُعليمٌ - Allahu 'aliimun : Allah Maha Mengetahui

Mubtada: Allahu
Khobar: 'aliimun

Sekarang kalau kita tambahkan Inna:

إن الله َعليمٌ - inna Allaha 'aliimun : (sesungguhnya) Allah Maha Mengetahui

Terlihat disini tugas inna, yaitu merubah Allahu menjadi Allaha.

Sekarang dalam kalimat:

إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban

Mubtada: hu (Dia / Allah) <-- isim dhomir
Khobar: kaana tawwaban <-- jumlah fi'liyyah

Nah ingat lagi, Inna itu menashobkan mubtada. Mubtada'nya mana? Yaitu HU (kata ganti / isim dhomir).

Dalam kaidah bahasa Arab, isim dhomir shifatnya mabni (tetap). Oleh karena itu dia tidak terpengaruh, walau dia kemasukan Inna. Alias fungsi inna, yang menashobkan mubtada tidak "mempan" kena kepada kata ganti.

Asal kalimat tsb adalah:

هو كان توابا - huwa kaana tawwaba : Dia senantiasa Maha Penerima taubat

Lalu kemasukan inna menjadi:

إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban : Sesungguhnya Dia senantiasa Maha Penerima Taubat.

Oke demikian dulu penjelasan mengenai mubtada dan khobar. Insya Allah kita akan bahas bagaimana kasusnya kalau mubtada dan khobar kemasukan kaana, tetapi khobarnya itu fi'il, atau jumlah fi'liyyah (kalimat yang didahului kata kerja).

Related Posts

0 komentar: