Perlunya Sifat Lemah Lembut dalam Bernasehat

shares


Perlunya Sifat Lemah Lembut dalam Bernasehat

satu perenungan terhadap sifat Allah, Yang Maha Lemah Lembut


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
Al-Ishlah │ "Ada tempat-tempat terbaik, waktu-waktu terbaik, bagi kata-kata terbaik”
-AA Gym

“Foto yang indah jika dibingkai dengan bingkai yang buruk, buruklah tampak foto itu”
-Al-Hikmah

Pesan-pesan terbaik haruslah dibingkai dengan kata-kata terbaik

Alkisah, seorang cendikiawan berdiskusi dengan seorang ulama. Si cendikiawan terkenal orang pemikir tapi lemah lembut dalam bertutur. Sementara si ulama, seorang yang tinggi ilmunya, banyak ibadahnya, tetapi tutur katanya kurang teratur, dan kata-kata tidak kata-kata yang terpilih, yang sering diucapkannya.

Mereka berdiskusi hebat. Sampailah mereka kepada satu point yang sangat seru. Beberapa pendapat si cendikiawan tidak masuk dalam pandangan si ulama, lalu telontarlah tutur kata yang kurang baik dengan setengah menghardik kepada si cendikiawan. Si cendikiawan, merasa semestinyalah nasehat-nasehat sang ulama disampaikan dengan cara yang lebih santun dan lemah lembut, walaupun nasehat yang disampaikan si ulama nasehat yang sangat baik (yang berasal dari Quran dan Hadis shoheh).

Cendikiawan: “Menurut Bapak siapa manusia yang paling kufur di dunia ini?”
Ulama: “Fir’aun!”

Cendikiawan: “Apakah Fira’un masuk neraka?”
Ulama: “Pasti. Karena kekufurannya!”

Cendikiawan: “Menurut Bapak, apakah Nabi Musa AS, masuk syurga?”
Ulama: “Ya. Semua nabi Allah SWT pasti masuk syurga!”

Cendikiawan: “Menurut Bapak, apakah semua manusia selain nabi-nabi Allah, pasti masuk neraka?”

Ulama: “Belum tentu, bisa masuk neraka, bisa juga syurga, tergantung amalannya!”
Cendikiawan: “Menurut Bapak mana yang lebih buruk kelakuannya, Firaun atau saya?”

Ulama: “Tentu Firaun!”
Cendikiawan: “Menurut Bapak mana yang lebih baik perilakunya, Nabi Musa AS, atau Bapak?”

Ulama: “Kenapa Anda bertanya begitu? Sudah pasti Nabi Musa AS, yang sudah pasti masuk syurga!”
Cendikiawan: “Pak! Apakah pantas, saya yang belum tentu masuk neraka tapi lebih bagus dari Firaun, Bapak hardik! Padahal Bapak juga belum tentu masuk syurga seperti Nabi Musa?”. “Nabi Musa saja yang pasti masuk syurga menyampaikan pesan-pesan Allah dengan lemah lembut kepada Firaun yang pasti masuk neraka!”

Demikianlah sekelumit percakapan yang banyak sekali (dalam beberapa versi) percakapan ini dikutip dalam buku-buku hikmah. Buku-buku hikmah banyak menyoroti metoda penyampaian pesan (message conveying method) oleh Nabi Musa AS.

Dalam kesempatan ini bolehlah kita renungi dari sudut (angle) yang lain yaitu sudut bagaimana lemah lembutnya Allah menyampaikan pesan-pesan terbaiknya kepada Nabi Musa AS.

Perlunya bersifat lemah lembut

Lihatlah kembali kisah Musa AS, sewaktu diperintah Allah SWT agar menyampaikan nasehat-nasehat kebaikan kepada Fir’aun. Betapa buruknya amalah Fira’un seperti tergambar dalam Surat Al-Qashas (Cerita) [28]:

Thaa Shiim Miim.

Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.

Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS 28:1-4]

Sedemikian buruk kelakuan Fir’aun, menyembelih semua anak laki-laki yang baru lahir, karena ketakutannya kepada kedatangan seorang laki-laki yang nanti akan menggeser kekuasaannya. Dan, lebih jauh lagi dia berani memproklamirkan dirinya “Akulah Tuhan, yang pantas disembah!”

Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta” [QS 28:38]

Bagaimanakah Allah menanggapi sikap kufur Fir’aun tersebut. Allah kemudian menyuruh Musa mendatangi Fir’aun.

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; [QS 20:42]

Betapa lemah lembutnya Allah memerintahkan Musa AS?

Kalau kita mau melepas anak kita merantau (mungkin untuk bersekolah ke tanah seberang), kita mengatakan “Pergilah Nak, bawa ini bekal, kalau hatimu sedih jangan lupa kirim surat ke Mamah ya...”, “Pergilah Nak,,, Pergilah,,,” sambil melepas anak sholeh kesayangan kita dengan tetesan air mata. Rasakanlah bagaimana Allah membingkai perintahNya dengan kata-kata yang lemah lembut “Pergilah, wahai Musa”

Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; [QS 20:43]

Tidaklah kalah lemah lembutnya bingkaian kata-kata Allah terhadap Fir’aun, si penghuni kerak neraka. “Pergilah, temuilah dia. Dia sungguh telah melampaui batas”. Allah tidak membingkai kata-kataNya dengan kata-kata penuh emosi (seberapun Fira’un ingkar terhadap Dia”). Lihatlah kata-kataNya sangat tenang dan menyejukkan. Alih-alih mengatakan “pergilah ke Fir’aun si tukang kafir itu”, tetapi Allah mengatakan “pergilah menghadap ke si tukang yang telah melampaui batas itu”.

Bagaimana reaksi nabi Musa AS?

Tidaklah kalah lemah-lembutnya Musa menjawab, layaknya seorang kekasih yang berkasih sayang dengan kekasihnya:

Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, [QS 20: 25]

Musa AS, berkata “Ya Tuhanku”, tergambarlah disini kasih sayang Musa kepada Allah “Ya kekasihku”, “aku ini orangnya tidak baik dalam bertutur kata, aku cepat emosi, dadaku cepat sempit, aku mohon kepadaMu, lapangkanlah dadaku”. Inilah doa setiap muslim dianjurkan membacanya “Rabbisy rahlii soddrii” (Ya Rob, Ya Tuhanku, Ya Kekasihku, lapangkanlah dadaku”)dan mudahkanlah untukku urusanku,dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, [QS 20: 26-28]

Nabi Musa berkata “Ya, Tuhanku sungguh berat tugas ini bagiku, Aku takuuuuut ya Rob.... aku khawatiiiir bertemu Fir’aun”. Maka mudahkanlah urusan ini bagiku. Terlihatlah disini permohonan Musa AS. Inilah doa setiap muslim dianjurkan membacanya “wa yassirli amri wahlul uqdatam millisani yafqahu qauli” (Ya Rob, Ya Tuhanku, Ya Kekasihku, mudahkanlah urusan ini bagiku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku (lancarkanlah bicaraku), agar mereka (Fir’aun dan sekutunya) mengerti ucapanku”).

Perlu juga kita renungi bagaimana rasa takut Nabi Musa, menghadapi Fir’aun yang terkenal galak dan suka membunuh.

Berkatalah mereka berdua (Musa dan Harun): "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." [QS 20: 45]

Nabi Musa AS, adalah manusia biasa juga yang punya rasa takut akan disiksa Fir’aun. Dan inilah yang dikadukan kepada Allah. “Ya Allah, Aku khawatir, dia akan menyiksaku”.

Inti sari metode penyampaian pesan

Setelah mengeluhkan kekuatirannya kepada Allah, dan bermohon agar dimudahkan dalam urusan ini. Allah kemudian mengajarkan kepada Musa cara (metode) penyampaian pesan-pesan kebaikan dari Allah. Perhatikanlah ayat sebelumnya. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." [QS 20:44]

Disinilah pengajaran Allah kita temukan. Dalam menyampaikan pesan kebaikan apapun itu, kepada siapapun itu, haruslah dengan kata-kata yang lemah lembut. Dan tujuan pesan itu dibingkai dengan kata-kata yang lemah lembut hanyalah agar (lihatlah pesan Allah), “mudah-mudahan” si penerima pesan itu ingat (dan kembali ke jalan Allah).

Lihatlah kata-kata “mudah-mudahan” diatas dan rangkaian kata-kata indah yang diajarkan Allah. Disini Allah mengajari kita bahwa:

Menyampaikan pesan-pesan kebaikan haruslah dengan kata-kata yang lemah lembut.
Kamu hanya menjadi pembawa pesan (messenger)
Kamu tidak punya hak untuk memastikan bahwa si penerima pesan akan mengikuti kamu atau tidak. Lihatlah kata “mudah-mudahan” diatas, yang kurang lebih berarti “Wahai Musa, kerjakan saja tugas mu dengan baik, perkara hasilnya, Akulah yang menentukan, kamu cukup katakan “mudah-mudahan berhasil”.
Tujuan kita dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan, hanyalah agar orang tersebut (yang kita sampaikan pesan kebaikan kepada dia) kembali ingat, dan takut kepada Allah.

Allah bersifat Maha Lemah Lembut (Al-latief)

Dalam bukunya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa, sifat Allah Al-Latief mengandung makna bahwa “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang sangat kecil, dan Dia menurunkan Rahmat-Nya dengan cara yang sangat lembut.

Sebagaimana yang dapat dibaca dalam firman Allah yang berbunyi ath-thalattuf (yang lemah lembut) sebagaimana ucapan Ashab Al-Kahfi (penghuni gua)”:

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka (dari tidurnya) agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)." Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. [QS 18:19]

Panjanglah cerita Al-Kahfi ini untuk diuraikan, tetapi yang perlu digaris bawahi disini, Allah ingin mengajari kita “penghuni Kahfi yang tertidur sangat lama menyuruh temannya keluar gua untuk ke kota, membeli makanan. Dan diingatkan untuk selalu bersikap dan berlaku lemah lembut selama dalam perjalanan, sampai ke kota, sampai membeli makanan (berjual beli dengan pedagangnya), dst”. Disinilah hikmah yang disampaikan Allah akan sifatnya Al-Latief tersebut. Bahwa dalam urusan kita dengan manusia lain, bahwalah sifat dia ini (sifat Maha Lemah Lembut).

Demikianlah sedikit kutipan dari buku tersebut.

Untuk kita renungi, lebih lanjut kisah Musa AS ini, jika kita baca Al-Quran:

Setelah dapat perintah, Musa meminta kepada Allah, agar bolehlah kiranya dia membawa serta saudaranya Nabi Harun AS. Dia merasa punya kelemahan dalam bertutur kata, sedangkan Harun AS, terkenallah seorang nabi yang sangat lemah lembut penuh dengan sifat Al-Latief pancaran dari Illahi. dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,(yaitu) Harun, saudaraku, [QS 20: 29-30]

Allah mengabulkan permohonan tersebut.

Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa." [QS 20: 36]

Demikianlah “percakapan” Musa AS dengan Allah SWT. Terasalah di bathin kita alangkah nikmatnya Musa AS, bermohon, meminta, dan permintaannya dikabulkan oleh kekasihnya Allah SWT.

Hikmah yang bisa kita petik dari percakapan Musa AS ini adalah:

1. “Manusia pastilah punya kelemahan, dan wajib bagi manusia menyadari kelemahannya itu”. Orang yang tidak sadar akan kelemahannya dan kekurangannya tidak akan mungkin bisa berubah, layaknya Fir’aun yang merasa tidak pernah punya kelemahan. Nabi Musa menyadari kelemahannya. Dalam ilmu management ini menjadi dasar untuk semua pekerjaan (know where and what you are now).

2. Setelah menyadari dan mengakui kelemahan itu, datanglah kepada Allah untuk memohon, sembari merencanakan sebuah solusinya (planning for a solution). Nabi Musa, mendapatkan solusi itu, yaitu “saya harus pergi dengan saudara saya Harun”.

Demikianlah hikmah yang bisa disampaikan pada hari terbaik ini. Mudah-mudahan bermanfaat khususnya buat penulis tulisan ini.

Untuk direnungi:

Nasi goreng yang sangat enak, jika disajikan diatas piring yang kurang bagus dan menarik, kuranglah sedap untuk disantap

Wallahu’alam. Mohon maaf atas segala kesalahan.

Sumber : http://arabquran.blogspot.co.id

Related Posts

0 komentar: